Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, secara tegas menyatakan bahwa proyek Giant Sea Wall atau Tanggul Laut Raksasa Pantai Utara Jawa akan segera dimulai. Foto: Kemenkoinfra.
Jakarta — Jakarta diperkirakan akan tenggelam sekitar 2050, sekarang saja di beberapa wilayah penurunan permukaan tanah berkisar 4,5 m dibanding tahun 1974. Solusinya GSW bagi pengamat yang mendukung, sedang yang tidak mendukung menganggapnya cuma tambah hutang bangsa.
Giant Sea Wall (GSW) atau Tanggul Laut Raksasa adalah infrastruktur strategis yang dibangun di pesisir untuk mencegah banjir rob, mengatasi penurunan muka tanah, dan abrasi, khususnya di Jakarta dan Jawa Tengah. Proyek ini ditargetkan groundbreaking pada September 2026 di Jakarta sebagai bagian dari NCICD untuk melindungi wilayah pesisir dari dampak perubahan iklim.
Giant Sea Wall dapat melindungi wilayah pesisir utara Jawa dari kenaikan muka air laut, banjir rob, dan penurunan permukaan tanah yang ekstrem. Lokasi Proyek Jakarta Bagian dari National Capital Integrated Coastal Development (NCICD) yang dibagi dalam beberapa fase, dengan tanggul pantai yang sudah berjalan dan rencana pembangunan tanggul raksasa di laut lepas. Porsi pembangunan Jakarta bertambah menjadi 19 km.
Groundbreaking Jakarta direncanakan September 2026. Proyek ini membutuhkan dana sangat besar (diperkirakan mencapai Rp 1.300 triliun) dan melibatkan skema investasi dalam/luar negeri serta Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa.
Proyek ini berpotensi menimbulkan dampak lingkungan yang signifikan, seperti kerusakan ekosistem mangrove dan terumbu karang, sehingga memerlukan penanganan dampak lingkungan yang cermat.
Pengamat tata ruang terbelah mengenai proyek Giant Sea Wall (tanggul laut raksasa) di Jakarta. Sebagian menekankan urgensi percepatan proyek untuk mengatasi penurunan tanah yang mencapai 25 cm/tahun dan banjir rob. Sebaliknya, pengamat lain menyarankan pembatalan karena biaya sangat mahal, risiko ekologis, dan tidak mengatasi akar masalah penurunan muka tanah secara permanen.
Pandangan yang Mendukung, Penurunan muka tanah di Jakarta merupakan salah satu yang tercepat di dunia, membuat GSW mendesak sebagai PSN (Proyek Strategis Nasional) untuk menyelamatkan pesisir Utara. GSW dinilai efektif untuk memitigasi banjir rob, mengendalikan dampak perubahan iklim, dan mengamankan daratan Jakarta dari ancaman tenggelam.
Pandangan Kritis/Menolak, Proyek GSW membutuhkan dana raksasa yang tidak cukup dibebankan pada APBN, serta berisiko menjadi beban utang jangka panjang.
Pengamat seperti Nirwono Yoga berpendapat GSW tidak menyelesaikan akar masalah penurunan muka tanah, karena tanggul akan terus meninggi seiring penurunan tanah. Ada kekhawatiran mengenai kerusakan ekosistem pesisir akibat perubahan bentang alam.
Solusi Alternatif: Perbaikan ekosistem daratan, seperti revitalisasi sungai, pengendalian air tanah, dan pengerukan sedimen dianggap lebih realistis dan berdampak langsung.
Dari banyak sumber, Presiden Prabowo Subiyanto sudah mengkaji semuanya. Dan jika Presiden sudah bilang segera dibangun, maka itu tetap terwujud dan ini proyek raksasa yang juga masuk dalam prioritas. [].











