Dayah Rauhul Mudi dan Pemuda Jeunieb Serukan Tolak Hoaks dan Konten Provokatif Berbasis AI

BIREUEN — Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang semakin pesat membawa tantangan baru di ruang digital. Kemudahan membuat dan menyebarkan konten membuat masyarakat dituntut semakin kritis agar tidak mudah terjebak hoaks maupun informasi provokatif.

Menyikapi kondisi tersebut, Dayah Rauhul Mudi Al Aziziyah bersama pemuda Jeunieb menyatakan komitmennya untuk ikut menjaga keamanan, persatuan dan perdamaian Aceh dengan mengajak masyarakat menolak paham radikal, berita bohong serta konten provokatif di media sosial.

Komitmen itu disampaikan dalam sebuah kegiatan yang digelar Minggu (6/9/2026), yang turut menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran generasi muda dalam menggunakan media sosial secara bijak dan bertanggung jawab.

Para peserta diingatkan agar tidak terburu-buru mempercayai setiap informasi yang muncul di media sosial. Terlebih, teknologi AI kini mampu menghasilkan gambar, video, suara hingga narasi yang sekilas terlihat seperti kejadian nyata.

Karena itu, masyarakat diminta membiasakan diri melakukan verifikasi terhadap informasi sebelum mempercayai maupun membagikannya kepada orang lain.

“Mari bersama-sama menolak paham radikal, tidak mudah terpengaruh berita hoaks dan provokasi di media sosial. Pastikan setiap informasi yang diterima benar dan terverifikasi sebelum dibagikan kepada orang lain,” demikian pesan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut.

Selain mengingatkan bahaya hoaks dan provokasi, Dayah Rauhul Mudi Al Aziziyah dan Pemuda Jeunieb juga mendorong masyarakat memanfaatkan teknologi digital, termasuk AI, untuk hal-hal yang memberikan manfaat.

Teknologi AI dinilai dapat menjadi sarana untuk mendukung pendidikan, kreativitas, penyebaran informasi positif hingga pengembangan potensi generasi muda. Namun, pemanfaatannya harus tetap memperhatikan etika dan tanggung jawab.

Keterlibatan dayah dan pemuda dalam membangun kesadaran digital dinilai menjadi bagian penting dalam memperkuat ketahanan masyarakat di tengah derasnya arus informasi.

Literasi digital, kata mereka, tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga menyangkut sikap kritis, tanggung jawab serta kemampuan menjaga persatuan dan toleransi.

Bagi Aceh yang memiliki sejarah panjang dalam menjaga perdamaian, penggunaan media sosial secara bijak juga menjadi bagian dari upaya menjaga suasana tetap aman, damai dan kondusif.

Melalui gerakan tersebut, Dayah Rauhul Mudi Al Aziziyah dan Pemuda Jeunieb mengajak masyarakat menerapkan prinsip “saring sebelum sharing”, tidak mudah terprovokasi oleh hoaks maupun konten manipulatif berbasis AI, serta bersama-sama menjaga persatuan dan perdamaian Aceh.

(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *