Harga Barang Tersesat

Aceh Connect | Banda Aceh. — Kenaikan PPN 12% telah dimanfaatkan banyak pengusaha yang tidak punya hati, mereka menaikkan harga barang dalam situasi ekonomi rakyat yang semakin sulit. Biasanya jika harga barang telah terlanjur naik, sulit untuk turun. Kata Marwan warga Banda Aceh kepada Aceh Connect, Selasa 7 Januari 2025.

Kenyataannya barang beranjak naik sejak isu kenaikan PPN 12 %,  meski pemerintah telah menegaskan bahwa, kenaikan itu hanya untuk barang mewah. Beberapa pengusaha telah menaikkan harga barang untuk antisipasi meningkatnya cost produksi, celakanya harga barang tersebut susah untuk turun. Tambahnya.

Ungkapan senada menjadi bukti jika beberapa saat lalu, Ketua Umum Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Arsjad Rasjid meminta para pengusaha yang terlanjur menerapkan tarif Pajak Pertambahan Nilai atau PPN 12 persen agar mengembalikan kelebihan pajak sebesar 1 persen ke pembeli.

“Dapat mengembalikan kelebihan pajak sebesar satu persen kepada pembeli, berdasarkan aturan pelaksanaan yang saat ini masih dalam penyusunan oleh Pemerintah,” ucap Arsjad dalam keterangan resminya pada Sabtu, 4 Januari 2025 yang lalu dilansir Tempo.co.

Yang menjadi masalah kepada siapa kelebihan bayar itu dikembalikan, bagaimana pemerintah mampu mengawasi pasar hingga ke daerah pada barang yang terlanjur naik. Barang sembako sudah naik sejak puasa lalu awal 2024, berakhir gara-gara isu PPN naik akhir tahun 2024. Jika telah naik, sudah pasti lupa jalan turun.

Ekonom sekaligus Direktur Ekonomi CELIOS Nailul Huda, menyoroti ada faktor lain yang perlu diperhatikan, yakni inflasi yang timbul akibat ekspektasi masyarakat terhadap kenaikan tarif PPN.

Sudah ada inflasi yang disebabkan ekspektasi masyarakat terhadap kenaikan tarif PPN atau disebut expected inflation.

Terdapat kenaikan (harga) di beberapa barang kebutuhan sehari-hari yang diakibatkan ekspektasi penjual terhadap kenaikan dari PPN. Tentu fenomena ini ditimbulkan akibat ketidakpastian dari pemerintah soal penerapan terhadap kenaikan tarif PPN pada beberapa bulan terakhir,” kata Nailul kepada KBR, Jumat (3/1/2025) yang lalu. [*].

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *