Foto : Editan AC, 31/7. Makan Siang antara Tim Humas Bank Aceh dengan Para Pengelola Media Lokal, di RM Bayue Aceh Besar.
ACEH CONNECT | BANDA ACEH — Bank Aceh merupakan salah satu Bank daerah di Aceh yang menjadi tumpuan bagi berjalannya fungsi intermediasi yaitu menjadi jembatan baik dari sisi pemodal (dalam bentuk simpanan) dan dari sisi peminjam. Fungsi tersebut berjalan dengan baik dapat dilihat apabila Bank tersebut mampu menghimpun dana dari masyarakat dan kemudian menyalurkannya pada pihak-pihak yang membutuhkannya terutama pada sektor-sektor produktif.
Namun berjalannya fungsi tersebut dengan baik tentunya Bank Aceh harus mampu mengelola risiko dan menjaga kepercayaan masyarakat.
Kenyataannya hingga saat ini Bank Aceh masih belum menunjukkan kondisi yang kondusif dalam menjalankan fungsi tersebut, salah satunya adalah Kepemimpinan Bank Aceh masih “menggantung” dan masih belum jelas kapan proses pemilihan kepemimpinan Bank tersebut akan dilakukan.
Pemimpin ibarat nahkoda yang akan menentukan arah perjalanan organisasi terutama dalam kenyataan realitas ekonomi daerah akhir-akhir ini. Tentunya masyarakat bertanya-tanya bagaimana Bank Aceh akan melakukan operasional sehari-hari dalam mengemban amanah keuangan masyarakat apabila hingga saat ini nahkodanya belum terpilih. Tantangan ini tentunya jadi cerminan kondisi Bank Aceh saat ini dimata masyarakat.
Pertanyaan masyarakat tersebut tentunya juga menjadi perhatian media massa yang berusaha mencari berbagai berita sehingga mampu menyajikan informasi dan berita layak saji kepada masyarakat.
Kesan pertama media tentunya diperoleh melalui Humas Bank Aceh sebagai bagian dari tampilan perbankan tersebut. Kenyataannya jangankan informasi yang mampu menjawab keprihatinan masyarakat bahkan gaya komunikasi yang ditampilkan sangat eksklusif.
Gaya eksklusif Humas Bank Aceh yang sekarang dan dijabat oleh Hafas, telah menjadi sorotan tajam dari berbagai pihak termasuk media lokal. Hafas kurang pro dengan rekan-rekan CEO Media, setiap pertemuan yang digagas Hafas berakhir dengan pertanyaan yang sama “Mengapa Hafas susah membalas WA media, ada apa dengan Hafas yang tidak mampu berkomunikasi padahal dirinya Humas”. Kata salah satu peserta, yang hadir dalam acara makan siang bersama Hafas beberapa waktu lalu.
Untuk apa Hafas terus menerus melakukan pertemuan dan acara makan siang dengan biaya yang lumayan besar, namun sasarannya yang ingin dicapai tidak jelas. Bahkan memunculkan rasa suka dan tidak suka antar media, hal inilah tentu akan menjadi sandungan bagi Bank Aceh di masa datang hanya gara-gara humas yang tidak mampu membangun komunikasi dengan baik.
Makan siang dengan menghamburkan uang Bank milik rakyat Aceh, hanya mampu memberi kesan bahwa Hafas adalah Bos Besar di Bank Aceh sebagaimana dilansir oleh Harian Moslem dengan judul Sepiring Engkot Bace dari Humas Bank Aceh Syariah.
Apa yang ditulis oleh Harian Moslem sangat tepat, karena Hafas berlagak bos besar Bank Aceh saat makan siang bersama belasan pemilik media di Bayue Rumah Makan Khas Aceh di pinggiran Aceh Besar, saat itu Kamis 17 Juli 2025.
Setelah makan siang pada tanggal tersebut, yang menyebut Hafas sebagai “Bos” langsung tagihan iklan Bank Aceh cair besok harinya. Sedang yang lidahnya kelu untuk menyebut Hafas Bos, jangan harap bisa bermitra lagi dengan Bank Aceh dan nomor hp kemungkinan di blokir atau Pesan singkat tidak lagi dibalas.
Terbukti sejak makan siang bersama pertengahan Juli hingga sekarang akhir Juli 2025, Hafas belum menunjukkan sikap bersahabat dengan sebagian besar awak media. Sehingga berseliweran hujatan muncul untuk Hafas, baik menjadi pembicaraan di warkop ataupun di media-media lokal.
Beberapa mantan petinggi Bank Aceh yang sempat diminta pendapatnya, merasa heran mengapa Hafas yang ditunjuk sebagai Humas. Jangankan komunikasi, gesturpun sama sekali dia tak punya. Harusnya manajemen Bank Aceh, jeli melihat persoalan ini dan segera dievaluasi. Kata sumber yang layak dipercaya kepada media ini.
Menurut mereka, manakala seseorang yang dipercaya memegang satu jabatan, maka yang harus dijaga adalah kepercayaan itu sendiri demi lembaga yang telah membesarkan mereka. Bukan sebaliknya, menjadikan jabatan untuk gagah-gagahan. Sayang-kan, jika Bank Aceh dihadapkan dengan masalah seperti ini, apalagi kita belum baik-baik saja. Pungkas sumber tersebut, 31 Juli 2025.
Tim redaksi media ini juga telah menyampaikan hal yang serupa kepada Sekretaris Perusahaan Bank Aceh Syariah Rafur (29/7) lalu, namun mendapat respon dingin dan tidak fokus sehingga tidak diperoleh jawaban yang diharapkan.
Pada kesempatan lain, berbagai pihak memberi pandangan yang memprihatinkan terhadap situasi Bank Aceh, dan berharap Pemerintah Aceh harus bisa bersikap tegas untuk segera mempersiapkan fit proper Direktur Utama sehingga manajemen Bank Aceh dapat secepatnya kembali normal.
Harapan seperti ini datang dari berbagai kalangan, termasuk pengelola media. Semoga harapan itu segera terwujud, dan jangan sampai Bank Aceh masuk dalam pusaran politik ekonomi yang berkepanjangan. [Tr].











