ACEH CONNECT | ACEH TAMIANG – Upaya memperkuat pelaksanaan muatan lokal terus digencarkan Majelis Pendidikan Daerah (MPD) Aceh Tamiang. Tahun ini, lembaga tersebut menjadwalkan monitoring ke 191 SD dan MI di berbagai kecamatan untuk melihat langsung bagaimana kurikulum Baca Tulis Al-Qur’an (BTQ) dan Adat Budaya Tamiang (ABT) diterapkan di sekolah.
Monitoring ini menjadi bagian dari perjalanan panjang perbaikan pendidikan Aceh yang pernah mengalami pasang surut, mulai dari masa kejayaan kesultanan hingga masa konflik dan bencana tsunami 2004 yang sempat melemahkan kualitas pendidikan. Babak baru pascadamai Helsinki membuka jalan bagi berbagai pembenahan, termasuk penguatan kekhususan Aceh dalam bidang adat, budaya, agama, dan pendidikan.
Dengan jumlah sekolah yang cukup banyak, MPD Aceh Tamiang membagi personelnya ke dalam tiga kelompok kerja agar seluruh lokasi dapat terpantau secara menyeluruh.
Ketua MPD Aceh Tamiang, H. Muttaqin, S.Pd., M.Pd., yang ditemui saat memantau kegiatan di SD Negeri 1 Tamiang Hulu pada Selasa (18/11/2025), menjelaskan bahwa monitoring ini merupakan tindak lanjut dari amanah Perbup Nomor 12 Tahun 2022 tentang Kurikulum Muatan Lokal dan landasan keistimewaan Aceh sebagaimana diatur dalam UU No. 44 Tahun 1999.
“Ini bagian dari kewenangan kekhususan Aceh. Kita ingin memastikan bahwa BTQ dan ABT sebagai muatan lokal tidak hanya dimasukkan ke jadwal, tapi benar-benar diajarkan sesuai kurikulum,” ujarnya.
Muttaqin juga menekankan keutamaan mengajarkan Al-Qur’an kepada peserta didik. Menurutnya, seorang guru yang mengajarkan baca tulis Al-Qur’an bukan hanya mendidik akhlak siswa, tetapi juga sedang membangun pahala jangka panjang.
“Pahalanya terus mengalir meskipun guru telah wafat. Mengajarkan Al-Qur’an bisa menjadi sebab hidayah bagi banyak orang, dan kedudukan guru yang mengajarkan kalam Allah itu sangat tinggi di sisi-Nya,” ungkapnya.
Dalam kegiatan monitoring, MPD fokus memeriksa dua aspek utama—kemampuan siswa dalam membaca, menulis, serta memahami dasar-dasar tahsin, dan penerapan pembelajaran ABT mulai dari bahasa, adat, sampai nilai budaya yang hidup di tengah masyarakat Tamiang.
Muttaqin menambahkan bahwa hasil monitoring ini akan menjadi bahan evaluasi serta rekomendasi bagi peningkatan pelaksanaan muatan lokal pada tahun-tahun berikutnya. “Adat dan nilai keislaman adalah fondasi pendidikan kita. Kita ingin memastikan keduanya tetap terpelihara melalui pembelajaran yang baik di sekolah,” tutupnya. (Kr).









