Guru Hebat Indonesia Kuat: Aceh Sambut Program Pendidikan Nasional dengan Penguatan Keistimewaan Daerah

Aceh Connect – Peringatan Hari Guru Nasional 2025 yang mengusung tema “Guru Hebat Indonesia Kuat” menguatkan kembali peran penting pendidik, termasuk di Aceh yang memiliki kekhususan dalam bidang pendidikan. Dalam pidato yang dikutip dari halaman resmi Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah pada 24 November 2025, pemerintah pusat menegaskan langkah-langkah strategis untuk meningkatkan kompetensi dan kesejahteraan guru.

Beasiswa Rekognisi Pembelajaran Lampau bagi 12.500 guru, pelatihan profesi, penguatan konseling, hingga pelatihan digital seperti deep learning dan kecerdasan artifisial menjadi paket peningkatan mutu yang disambut antusias pendidik di Aceh. Program ini dianggap mampu menutup kesenjangan kualitas pembelajaran yang masih terasa antara wilayah kota dan pedalaman—dari kawasan Lokop hingga pesisir Aceh Jaya.

Di sisi kesejahteraan, tunjangan sertifikasi dua juta rupiah bagi guru non-ASN serta insentif 300 ribu rupiah untuk guru honorer membuka jalan bagi peningkatan stabilitas ekonomi keluarga guru. Di beberapa kabupaten, banyak guru yang masih mengajar dengan pendapatan pas-pasan, terutama di sekolah swasta kecil dan dayah berbasis masyarakat.

Kebijakan nasional itu sejalan dengan landasan hukum Aceh melalui UU Nomor 11 Tahun 2006 dan UU Nomor 44 Tahun 1999 yang memberi ruang luas bagi pemerintah daerah untuk menyusun kebijakan pendidikan sesuai karakter lokal. Dengan kewenangan tersebut, Aceh dapat mempercepat integrasi program pusat ke dalam kebutuhan daerah, baik kurikulum Islami, sejarah lokal, maupun model pembelajaran berbasis budaya Aceh.

Menteri juga menyorot tekanan sosial yang dialami guru. Banyak pendidik menghadapi risiko hukum atau konflik dengan orang tua murid. MoU dengan kepolisian mengenai penyelesaian damai dinilai sangat relevan bagi Aceh, yang memiliki tradisi kuat dalam penyelesaian sengketa secara adat( peusijuk) dan musyawarah.

Di tengah tema “Guru Hebat Indonesia Kuat”, semangat perbaikan pendidikan di Aceh terasa semakin menguat. Ruang kelas bukan hanya tempat belajar membaca dan berhitung, tetapi juga ruang membangun karakter, budaya, dan masa depan generasi Aceh. (Kr).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *