Foto: Kapal Aceh Hebat 1. (dok. Dishub Aceh).
ACEH CONNECT — Kadishub Aceh, T. Faisal beberapa waktu lalu dalam paparannya menjelaskan bahwa, jarak pelayaran Krueng Geukueh–Penang mencapai sekitar 205 mil laut. Pemerintah Aceh, kata dia, telah mengirimkan surat kepada Presiden pada Agustus lalu untuk meminta dukungan pembukaan lintasan tersebut.
Pembahasan rute internasional itu kini juga telah masuk dalam pembahasan antarnegara melalui forum Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle (IMT-GT).
Inilah yang selalu didiskusikan masyarakat Aceh di berbagai pertemuan, “untuk apa rute penumpang ini dibuka, siapa yang akan ke penang lewat laut dengan jarak tempuh yang begitu lama?.” Kata warga Banda Aceh kepada awak media, sesaat setelah wacana itu dipaparkan Kadishub Aceh.
Apalagi setelah ada pernyataan dari Juru Bicara Pemerintah Aceh, Muhammad MTA, bahwa rencana pembukaan rute ke Penang sebenarnya sudah pernah disampaikan oleh Gubernur Aceh.
Pada tahap awal, pemerintah berencana melakukan pengadaan kapal khusus untuk melayani rute tersebut. Namun, karena kondisi fiskal yang terbatas, opsi paling strategis yang dipilih saat ini adalah menambah jadwal layar Kapal Aceh Hebat-1 yang selama ini melayani Calang–Simeulue.
“Ini bukan berarti seluruh rute Aceh Hebat-1 dialihkan ke Krueng Geukueh–Penang. Operasional Calang–Simeulue tetap berlangsung normal. Yang dilakukan adalah penambahan rute, bukan pengalihan,” tegas MTA, Rabu, 19 November 2025.
Pernyataan ini telah membuat warga Simeulue was-was, sesungguhnya bagi mereka kebutuhan sarana dari-ke Simeulue masih kurang, apalagi rutenya mau ditambah hingga ke Penang. Hal ini terus diperbincangkan warga Simeulue, terakhir media ini mendapat kabar bahwa, besok Rabu (26/11) mahasiswa Simeulue yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Simeulue akan melakukan aksi damai ke kantor Gubernur Aceh dan DPRA.
Dalam aksi yang bertema ‘Tolak wacana penambahan rute Krueng Geukeuh – Penang Malaysia, yang dikoordinir oleh Dadang Harnayan. Mereka mengajak seluruh warga Simeulue yang ada di Banda Aceh, Aceh Besar dan sekitarnya untuk ikut dalam aksi damai menolak wacana tersebut. [**].











