Hidayatullah Rama Putra, foto: ist.
ACEH CONNECT — Ucapan Bupati Aceh Tenggara Salim Fakry, yang menyebut Presiden seumur hidup saat Presiden Prabowo Subiyanto turun langsung meninjau dan membantu korban banjir di Aceh Tenggara, Senin (1/12/2025). Ucapan tersebut dianggap sebagai wacana mengada-ada, dan diucapkan pada waktu yang tidak tepat dalam kondisi yang tak pantas. Dalam narasi yang disampaikan oleh salah seorang warga Indrapuri (A) mahasiswa Yogyakarta, kepada Aceh Connect, Kamis (4/12).
Penanganan bencana selalu menuntut kehadiran pemimpin yang sensitif, empatik, dan fokus pada keselamatan masyarakat. Ketika banjir melanda Aceh Tenggara, masyarakat yang terdampak masih berupaya memulihkan kehidupan mereka di tengah keterbatasan. Pada situasi seperti ini, prioritas utama seharusnya adalah respons darurat, pemulihan infrastruktur vital, serta pendampingan sosial dan psikologis bagi para korban.
Setiap komunikasi publik pejabat negara pada masa krisis idealnya mencerminkan ketenangan, kepedulian, serta orientasi terhadap kebutuhan masyarakat. Namun, kemunculan pernyataan bernuansa politis dari Bupati Aceh Tenggara—termasuk wacana mengenai masa jabatan presiden seumur hidup—dipandang tidak selaras dengan konteks kebencanaaan dan tidak menunjukkan kepekaan terhadap penderitaan warga.
Taman Pelajar Aceh Yogyakarta menilai bahwa situasi bencana tidak boleh dijadikan ruang untuk mengangkat agenda politik, tetapi harus menjadi momentum untuk menegaskan komitmen terhadap kemanusiaan dan tata kelola pemerintahan yang konstitusional.
Dalam kesempatan ini, Hidayatullah Rama Putra, Wakil Ketua Umum Taman Pelajar Aceh Yogyakarta, turut memberikan tanggapan resmi.
“Momentum bencana seharusnya menjadi prioritas penuh bagi pemimpin daerah untuk memastikan keselamatan dan pemulihan masyarakat. Ketika muncul pernyataan bernuansa politis yang tidak relevan dengan kondisi banjir, kami menilai hal tersebut kurang mencerminkan sensitivitas serta empati terhadap warga yang tengah berjuang. Ini saatnya bekerja untuk rakyat, bukan menyampaikan wacana politik.”
Lebih lanjut, ia menegaskan pentingnya menjaga fokus dalam penanganan bencana:
“Setiap kata yang keluar dari pejabat publik memiliki dampak. Pernyataan yang tidak sesuai konteks dapat menggeser perhatian dari kebutuhan mendesak seperti evakuasi, pemulihan fasilitas umum, dan pendampingan psikologis bagi korban. Bahkan, wacana sensitif tentang struktur kekuasaan dapat memicu kegaduhan yang tidak diperlukan. Ini bukan panggung politik—ini adalah situasi kemanusiaan.”
Sebagai penutup, Hidayatullah menyampaikan harapannya terhadap pemerintah daerah:
“Kami berharap para pemimpin daerah menempatkan kemanusiaan di atas kepentingan apa pun. Respons cepat, komunikasi yang empatik, dan fokus pada pemulihan warga harus menjadi prioritas utama. Keteladanan pemimpin tercermin bukan hanya dari kebijakan, tetapi juga dari kehati-hatian dalam berbicara. Masyarakat membutuhkan pemimpin yang hadir dan peka, bukan yang memanfaatkan bencana untuk retorika politik.” Tutupnya.

Prabowo terlihat menggelengkan kepala mendengar ucapan tersebut, yang keluar dari mulut seorang Bupati Aceh Tenggara Salim Fakry soal ‘presiden seumur hidup’. (Dok. YouTube Setpres)











