Banda Aceh — Wali Nanggroe Aceh Paduka Yang Mulia Tgk Malik Mahmud Al Haythar menerima audiensi pengurus Yayasan Aneuk Muda Aceh Unggul dan Hebat (AMANAH) masa bakti 2026–2031 di Meuligoe Wali Nanggroe, Kamis lalu, 16 April 2026.
Dalam pertemuan itu, Wali Nanggroe menekankan pentingnya pengembangan kapasitas generasi muda sebagai motor pembangunan Aceh di masa depan.
Ketua Yayasan AMANAH, Dr. Ir. Syaifullah Muhammad, ST., M.Eng, hadir bersama jajaran pengurus lainnya, yakni Sekretaris Yayasan Ir. Yudha Nurdhin, ST., M.T, Direktur Badan Pekerja Dr. Safwan Nurdin, SE., M.Si, serta Fakhrurrazi, SE., M.M dari Bidang Marketing dan Digitalisasi Data.
Kabag Kerjasama dan Humas Wali Nanggroe, Zulfikar Idris mengatakan, dalam audiensi tersebut, AMANAH melaporkan reaktivasi organisasi yang akan kembali berfokus pada pengembangan potensi anak muda di Aceh.
Selain itu, yayasan juga menyampaikan undangan kepada Wali Nanggroe untuk menghadiri agenda relaunching AMANAH pada 23 April 2026 di kawasan Gedung AMANAH, Ladong.
Ketua Yayasan AMANAH, Syaifullah Muhammad, mengatakan pihaknya ingin menjadikan lembaga itu sebagai pusat pengembangan keterampilan pemuda Aceh di berbagai sektor.
“AMANAH memiliki banyak fasilitas yang dapat dimanfaatkan anak-anak muda Aceh, mulai dari pelatihan pertanian, peternakan, ekonomi kreatif, UMKM, robotik, hingga rumah produksi nilam dan kopi beserta produk turunannya,” ujarnya.
“Kami berharap ke depan AMANAH dapat berkontribusi nyata dalam pembangunan pemuda Aceh, sehingga perekonomian daerah dapat bergerak lebih maju melalui kreativitas anak muda,” katanya.
Sementara itu, Wali Nanggroe menyampaikan apresiasi atas hadirnya kelompok masyarakat yang tetap konsisten memikirkan pembangunan generasi muda Aceh.
Wali Nanggroe juga mendorong pemuda Aceh untuk memperluas wawasan melalui pendidikan ke luar negeri, meningkatkan kemampuan bahasa Inggris, serta mempelajari kemajuan negara lain sebelum kembali membangun daerah.
Selain penguatan sumber daya manusia, Wali Nanggroe turut mengingatkan pentingnya pembangunan Aceh yang tetap memperhatikan tata ruang dan kelestarian lingkungan.
“Pembangunan jangan hanya berorientasi pada gedung dan ruko semata, tetapi harus menjaga keseimbangan alam, keindahan, serta karakter Aceh. Aceh harus modern, namun tetap bernuansa keacehan yang kuat,” ujar Wali Nanggroe yang didampingi Staf Khusus Dr. Muhammad Raviq.[]











