Iran Jadi Aktor Kunci, Trump (mamalukan) Bicaranya Diabai Pasar

Selat Hormuz Dibuka.

Jakarta — Apapun yang diputuskan Iran berkaitan selat Hormuz begitu cepat direspon dunia, dunia percaya apa yang disampaikan Iran. Sebaliknya ancaman AS tidak pernah direspon, bahkan negara Super Power Amerika Serikat pamornya turun di tangan Trump. Ungkap Tia Mariatul Kibtiah Dosen Hubungan International Universitas Binus, Sabtu malam 17 April 2026.

“Sejak Lebanon masuk pada masa gencatan senjata Jum’at (16/4), Iran langsung membuka Selat Hormuz bagi lintasan kapal niaga tanpa kecuali. Harga minyak langsung turun secara signifikan, meski Trump memblokade Selat Hormuz”. Kata Tia.

Artinya, Trump berusaha mencari perhatian dunia saat Iran buka Selat Hormuz, AS malah bersikap lain dan tetap memblokade Selat Hormuz. Sepertinya sikap Trump tidak lagi menjadi acuan bagi dunia perdagangan, sebagai bukti kapal China tetap lewat menembus selat Hormuz di saat ancaman Blokade Trump.

Dikutip dari berbagai sumber,

Trump menyebut Iran telah memastikan jalur pelayaran strategis tersebut kembali dapat dilalui.

“Iran mengumumkan bahwa selat tersebut sepenuhnya terbuka dan siap untuk dilalui sepenuhnya,” tulis Trump di media sosial Truth Social, Jumat (17/4/2026).

Selang beberapa saat Trump menggugah kembali bahwa, meski demikian blokade Amerika Serikat terhadap selat tersebut masih akan tetap diberlakukan hingga tercapai kesepakatan untuk mengakhiri perang dengan Iran. “Blokade akan tetap berlaku sepenuhnya,” tegas Trump.

Bicara Trump telah dianggap membual, kacau, asal bicara, tidak punya rasa malu. Beberapa kali Trump mengancam Iran 48 jam, tidak berlaku. Ingin kembalikan Iran ke zaman batu, malah Iran akan jadi negara Adi daya. Trump bilang Iran akan bertekuk cepat, kini Iran dikenal tangguh. AS yang sejatinya sangat ditakuti dunia, kini semasa Trump pamor itu hilang sama sekali.

Propaganda Trump mudah sekali dibaca, memasuki perundingan tahab dua, Trump akan buka blokade Selat Hormuz agar kapal China bisa melewatinya. China tidak merespon, apalagi Iran. 

“Yang harus dilakukan Trump sekarang, mampukah dia mengendalikan  Israel untuk tidak lagi menyerang Lebanon.” Pungkas Tia. [].

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *