Mengapa Trump Selalu Klaim Menang, Siapa Gurunya?

ShutterStock (edit|AC).

Donald Trump populer dengan kebohongan, klaim selalu memenangkan setiap pertarungan. Amerika negara terhebat di Dunia, Trump selalu tidak pernah mengakui kekalahan sekecil apapun. Mengapa Trump bersifat begitu, tentunya dapat dilihat dari orang-orang dekat yang berpengaruh terhadap watak keras dan ego Donald Trump.

Donal Trump sendiri adalah pengusaha sukses di Amerika yang meneruskan usaha keluarga dalam bidang real estate hingga sukses membangun jaringan bisnis di bidang resort dan perhotelan, bisnis kasino, sehingga mampu menjadi icon bisnis Amerika melalui pencitraan reality show “the Aprentice” sebuah acara televisi kompetisi bisnis yang tidak hanya mampu menempatkannya sebagai pengusaha sukses namun juga mampu mengantarkan Trump sebagai Presiden Amerika ke -45 pada periode 2017–2021.

Trump juga aktif dalam karier politik walaupun sempat berpindah-pindah partai, namun karakter konservatif lebih mendekatkannya ke Partai Republik. Trump dengan gaya yang lugas dan tegas dalam berbagai kebijakan politik dipengaruhi beberapa nama diantaranya adalah Cohn Roy dan John Bolton.

Roy Cohn berpengaruh pada gaya personal dan strategi komunikasi Trump sejak awal kariernya. Cohn menjadi mentor Trump pada 1970-an dan 1980-an, terutama dalam hal strategi hukum dan komunikasi publik. Ia mengajarkan Trump untuk selalu menyerang balik lawan, tidak pernah mengakui kesalahan, dan menggunakan media untuk membentuk opini. Filosofi “fight back harder” yang diajarkan Cohn terlihat jelas dalam gaya politik dan retorika Trump hingga sekarang.

Salah satu ajaran Cohn adalah “Apa pun posisi yang Anda ambil, itulah posisinya, dan siapa pun yang menantang Anda, mereka salah. Mereka menjijikkan. Mereka tidak kompeten. Mereka idiot,” kata Johnston. “Jika mereka penegak hukum, mereka korup.”

John Bolton sendiri adalah mantan Penasihat Keamanan Nasional AS (2018–2019). Bolton dikenal sebagai tokoh konservatif dengan pandangan hawkish yang bermakna elang atau garis keras dalam kebijakan luar negeri. Ia mendorong Trump untuk mengambil sikap tegas terhadap Iran, Korea Utara, dan Venezuela.

Meski akhirnya hubungan mereka retak karena Bolton keluar dengan kritik keras terhadap Trump, selama menjabat ia berperan besar dalam membentuk kebijakan luar negeri Trump yang agresif.  Salah satu kalimat yang sangat populer dari John Bolton adalah “Baginya, dunia terbagi menjadi 2 blok, pemenang dan pecundang,

Dan dia selalu menjadi pemenang.” Saat ini Bolton dikenal berseberangan dan menjadi kritikus terhadap berbagai kebijakan dan menjadi tokoh dalam upaya pemakzulan Trump sebagai Presiden.

Hingga sekarang Trump tidak pernah merasa kalah, tidak mau mengalah, jangan paksakan dia, kecuali dia telah tiada. Itu kata yang tepat disematkan kepada Trump, kita membela kedaulatan itu penting, namun jangan paksakan Trump untuk mengatakannya meski dia ambruk terkubur. [Tr|Ac].

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *