Ekspresi kemenangan Prabowo Gibran (Maret 2024), foto : Ist.
Acehconnect.com | Banda Aceh. — Fenomena kampanye sejumlah pasangan calon kepala daerah menjelang pilkada 2024, dinilai beberapa pengamat dan dirilis berbagai media mirip dengan gaya Prabowo Gibran pada pilpres yang lalu. Dikutip dari berbagai sumber oleh media ini, Sabtu 23 Nopember 2024.
Strategi ini dilatari upaya mendekatkan diri ke pemerintah pusat sekaligus mendistraksi para pemilih, kata para pengamat. Bukan hanya ini presiden yang tadinya mau istirahat berpolitik, tergiring menjadi jurkam di beberapa daerah telah menjadi trending pembahasan secara nasional.
Pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Sumatra Utara, Bobby Afif Nasution-Surya, adalah salah satu kandidat yang dinilai punya kesamaan dari segi gaya kampanye dengan Prabowo-Gibran pada Pilpres 2024 silam.
Wakil Ketua Tim Pemenangan Pasangan (TPP) Bobby-Surya, Sugiat Santoso, mengakui pihaknya sengaja meniru gaya dan strategi kampanye Prabowo-Gibran saat memenangkan Pilpres 2024 lalu. Harapannya, cara itu membuahkan hasil serupa pada Pilgub Sumut 2024.
“Tentu kami mengapitalisasi euforia kemenangan Prabowo-Gibran untuk memenangkan Bobby-Surya di Pilgub Sumut,” ujar Sugiat kepada awak media, beberapa waktu lalu.
Hal serupa terjadi dI banyak daerah, melibatkan pemerintah pusat dalam strategi pemenangannya. Meski kemudian kabar itu lenyap, seiring Presiden RI Prabowo sedang berada di luar negeri dengan agenda kunjungan kepresidenan melawat ke berbagai negara hingga sekarang. Kabarnya baru akan kembali ke tanah air, Minggu 24 Nopember 2024.
Mereka lupa pilpres itu benar kepentingan nasional, sedang pilkada itu kepentingan rakyat di daerah. Rakyat hanya butuh pemimpin yang mampu berkomunikasi ke bawah, seberapa ada anggaran yang penting berkeadilan dan tidak habis hanya untuk rumah mereka.
Meskipun selama ini, perilaku buta politik kerap disematkan pada generasi Z. Namun generasi ini paling tidak menyukai konflik, sehingga pandangan langsung berubah seketika jika dia merasa tidak nyaman. Dan kelompok yang dizalimi, akan diuntungkan oleh karakter gen-z ini. Mereka dapat merubah pilihannya, dari detik ke detik.
Selain di Jawa, “cawe-cawe” (cukeh-cukeh dalam bahasa Aceh) tidak terlalu berpengaruh pada pilihan pemilih. Mereka butuh pemimpin yang mudah diajak bicara, tidak eksklusif dan tidak anti kritik. Aceh selalu jadi contoh, termasuk dalam pilkada serentak 2024 yang tinggal 4 hari lagi (27/11). Kata warga Banda Aceh kepada media ini, (23/11). [*].











