Aceh Connect | Lhokseumawe. — Dalam rangka mendorong pembangunan berkelanjutan, tim peneliti dari Pusat Unggulan Material Bangunan dan Energi Rendah Emisi, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) yang diketuai oleh Assoc. Prof. Dr. Eng. Beta Paramita melaksanakan proyek pembangunan rumah ramah lingkungan bertajuk Raflesia: Low Carbon Materials and Low Emission Housing. Proyek ini mencakup pembangunan 11 unit rumah, dengan 3 unit berlokasi di Aceh Timur dan 8 unit di Kota Lhokseumawe.
Proyek ini turut melibatkan dua dosen dari Program Studi Arsitektur Universitas Malikussaleh, yaitu Dr. Atthaillah dan Dr.Eng Muhammad Iqbal. Kolaborasi ini tidak hanya memperkuat sinergi antar institusi pendidikan tinggi, tetapi juga mendorong penerapan prinsip arsitektur berkelanjutan secara nyata di lapangan.
Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, juga diselenggarakan kuliah tamu di Prodi Arsitektur Universitas Malikussaleh dengan tema Cool Materials, yang membahas inovasi material bangunan rendah karbon dan teknologi pendinginan pasif. Tema ini relevan untuk mendukung pembangunan rumah hemat energi di wilayah tropis seperti Aceh. Dalam rilis Prodi Arsitektur Unimal disampaikan ke Tim Aceh Connect, Sabtu 12 April 2025.
Dalam implementasinya di lapangan, proyek ini didukung oleh Tenaga Fasilitator Lapangan (TFL) di masing-masing wilayah. Untuk wilayah Aceh Timur, TFL yang bertugas adalah Muhammad Dastur, sedangkan di wilayah Lhokseumawe adalah Nurul Akhyar. Keduanya berperan penting dalam memfasilitasi proses komunikasi antara tim pelaksana dengan masyarakat penerima manfaat.
Saat ini, proyek masih berada dalam tahap seleksi calon penerima manfaat dan penandatanganan kontrak untuk program CPM Raflesia dan Kampung BeCool. Proses ini berlangsung pada tanggal 9 hingga 11 April 2025 di dua lokasi tersebut, dan disambut antusias oleh warga setempat.
Para calon penerima manfaat menyampaikan rasa syukur dan harapan besar terhadap program ini. Mereka menilai kehadiran proyek sebagai jawaban atas kebutuhan hunian yang tidak hanya layak huni, tetapi juga ramah lingkungan, hemat energi, dan adaptif terhadap perubahan iklim. Pemerintah desa di kedua wilayah turut menyatakan dukungannya, dengan harapan bahwa program ini dapat menjadi model percontohan bagi pengembangan pemukiman berkelanjutan di wilayah lainnya.
Proyek Raflesia diharapkan menjadi langkah awal yang signifikan dalam mendorong transformasi pemukiman di Aceh menuju konsep arsitektur hijau dan rendah emisi, sekaligus memperkuat kolaborasi lintas sektor demi masa depan yang lebih berkelanjutan. [***].











