Wali Nanggroe Terima Kunjungan Wakil Duta Besar Kerajaan Belanda, Bahas Penguatan Kerja Sama Strategis di Aceh

Wali Nanggroe Aceh Paduka Yang Mulia Tgk. Malik Mahmud Al Haythar bersama Wakil Duta Besar Kerajaan Belanda untuk Indonesia, Adriaan Palm, foto: dok. Humas WN.

Banda Aceh — Wali Nanggroe Aceh Paduka Yang Mulia Tgk. Malik Mahmud Al Haythar menerima kunjungan Wakil Duta Besar Kerajaan Belanda untuk Indonesia, Adriaan Palm di Meuligoe Wali Nanggroe, Banda Aceh, Rabu 6 Mei 2026.

Kabag Kerjasama dan Humas Wali Nanggroe Zulfikar Idris mengatakan, pertemuan tersebut membahas penguatan kerja sama Belanda–Indonesia di Aceh, terutama dalam bidang pembangunan berkelanjutan, penanganan bencana, pengelolaan lingkungan, investasi, pendidikan, dan pengembangan ekonomi kawasan.

Dalam pertemuan itu, kedua pihak menegaskan komitmen untuk memperkuat hubungan kemitraan jangka panjang yang dibangun atas dasar saling menghormati, pembelajaran sejarah, dan kepentingan bersama demi masa depan Aceh yang lebih maju dan berkelanjutan.

Wakil Duta Besar Kerajaan Belanda menyampaikan bahwa kunjungannya ke Aceh bertujuan untuk melihat langsung perkembangan Aceh sekaligus membahas peluang kerja sama masa depan bersama Wali Nanggroe Aceh.

“Saya datang dari Jakarta hari ini untuk bertemu Wali Nanggroe dan berbicara tentang perkembangan di Aceh, sekaligus melihatnya dari perspektif sejarah dan masa depan, apa yang bisa kita lakukan bersama, bagaimana kerja sama dapat dibangun di Aceh bersama masyarakat Aceh, untuk memastikan pembangunan yang kita harapkan dapat terwujud,” ujar Adriaan.

Ia mengatakan Pemerintah Belanda sebelumnya telah terlibat dalam penanganan banjir di Aceh melalui Dutch Relief Alliance dan berbagai organisasi lokal. Namun, menurutnya, kerja sama tersebut perlu ditingkatkan ke tahap pemulihan dan pembangunan jangka panjang.

“Sebagai Pemerintah Belanda, kami telah terlibat dalam membantu penanganan banjir melalui Dutch Relief Alliance dan organisasi lokal. Namun kini saatnya melangkah ke tahap berikutnya, pemulihan dan pembangunan kembali,” katanya.

Menurutnya, Aceh memiliki potensi besar untuk dikembangkan melalui kerja sama lintas sektor, mulai dari pertanian hingga pengelolaan lingkungan dan tata kelola air.

“Apa peluang pengembangan sektor pertanian? Bagaimana kita memastikan tata kelola aliran air menjadi lebih baik? Dan yang terpenting, bagaimana kita dapat membantu masyarakat Aceh dan Belanda untuk tumbuh dan berkembang bersama?” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya budaya sebagai bagian penting dalam membangun hubungan antara Aceh dan Belanda.

“Selain itu, tentu saja budaya juga memiliki peran yang sangat penting, terutama di Aceh,” tambahnya.

Sementara itu, Wali Nanggroe Aceh menyampaikan bahwa pertemuan tersebut membahas berbagai peluang kerja sama strategis antara Aceh dan Belanda di masa mendatang.

“Kita banyak memperbincangkan bagaimana Aceh dan Belanda bisa bekerja sama, terutama dalam berbagai sektor pembangunan yang memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Wali Nanggroe yang didampingi Staf Khusus Dr. Muhammad Raviq.

Dalam diskusi, Wali Nanggroe dan Wakil Dubes Kerajaan Belanda juga turut merefleksikan sejarah panjang hubungan Aceh dan Belanda, termasuk pengalaman pascatsunami 2004 yang menjadi momentum penting kerja sama kemanusiaan dan rekonstruksi di Aceh.

Sebagai tindak lanjut, delegasi Belanda dijadwalkan mengunjungi sejumlah wilayah terdampak bencana di Aceh untuk menilai kebutuhan lapangan sekaligus mengidentifikasi peluang kerja sama lanjutan. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *