Acehconnect.com | Banda Aceh. — Abida terlahir pada 1913 dari keluarga ‘begum’ (perempuan Muslim terhormat) yang memerintah negara bagian Bhopal di India Britania, penerus warisan dalam hal menentang stereotip soal perempuan, khususnya perempuan Muslim.
Dia menolak mengenakan purdah—praktik yang mengharuskan perempuan-perempuan Muslim dan Hindu untuk mengenakan pakaian tertutup serta memisahkan diri dari laki-laki. Abida menjadi pewaris takhta pada usia 15 tahun, dia menjalankan kabinet ayahnya selama lebih dari satu dekade bergaul dengan para pejuang kemerdekaan terkemuka India.
Abida menyaksikan langsung kekerasan dan kebencian yang melingkupi negara ini, setelah Pakistan memisahkan diri pada 1947. Sejak kecil, dia sudah dipersiapkan untuk mengambil alih kekuasaan di bawah bimbingan neneknya, Sultan Jehan, sosok penguasa Bhopal dan dikenal tegas.
Abida menceritakan bahwa dia harus bangun pada pukul empat pagi setiap hari untuk membaca Al-Qur’an. Hari-harinya kemudian dilanjutkan dengan beragam kegiatan mulai dari belajar olahraga, musik, hingga berkuda.
Dia juga melakukan pekerjaan rumah seperti menyapu dan membersihkan kamar mandi.
“Kami para perempuan tidak diperbolehkan merasa rendah diri karena jenis kelamin kami. Semuanya setara,” katanya dalam sebuah wawancara mengenai masa kecilnya.
“Kami punya semua kebebasan yang dimiliki anak laki-laki. Kami bisa berkuda, memanjat pohon, memainkan permainan apa pun yang kami inginkan. Tidak ada batasan”.
Abida Sultan adalah putri tertua dari nawab terakhir di Bhopa Hamidullah Khan, Abida Sultan tak seperti tipikal putri kerajaan pada umumnya.
Dia memotong pendek rambutnya, berburu harimau, dan pemain polo yang handal. Sejak masih berusia sembilan tahun, Abida bisa menerbangkan pesawat dan menyetir mobil Rolls-Royce.
Memilih Bermigrasi ke Pakistan
Dalam memoarnya, Abida menggambarkan diskriminasi yang mulai ia hadapi di Bhopal; bagaimana keluarganya, yang telah hidup damai di sana selama beberapa generasi, mulai diperlakukan sebagai “orang luar”. Dalam salah satu wawancaranya, dia berbicara tentang kenangan yang sangat mengganggu yang dia miliki tentang kekerasan yang terjadi antara umat Hindu dan Muslim.
Suatu hari, setelah pemerintah India memberi tahu dia bahwa kereta yang membawa pengungsi Muslim akan tiba di Bhopal, dia pergi ke stasiun kereta api untuk mengawasi kedatangannya.
“Ketika kompartemen dibuka, semuanya sudah mati,” katanya dan menambahkan bahwa kekerasan dan ketidakpercayaan inilah yang mendorongnya untuk pindah ke Pakistan pada tahun 1950.
Abida pergi dengan tenang, hanya dengan putranya dan harapan untuk masa depan yang lebih cerah. Di Pakistan, dia memperjuangkan demokrasi dan hak-hak perempuan melalui karier politiknya. Abida meninggal di Karachi pada tahun 2002.
Setelah dia pergi ke Pakistan, pemerintah India telah mengangkat saudara perempuannya sebagai pewaris takhta. Namun, Abida masih dikenal di Bhopal, di mana orang-orang memanggilnya dengan julukan ‘bia huzoor’.
“Politik agama selama beberapa tahun terakhir telah mengikis warisannya dan dia tidak lagi banyak dibicarakan,” kata jurnalis Shams Ur Rehman Alavi, yang telah meneliti para penguasa wanita Bhopal.
“Namun, namanya sepertinya tidak akan segera dilupakan.” Dikutip dari berbagai sumber, Jum’at 6 Desember 2024. [*].











