Muhamnmad Nasir, warga Aceh Timur.
ACEH CONNECT | ACEH TIMUR —Di tepian Sungai Julok, dua desa terpencil—Naleung dan Lhee—seakan terputus dari denyut pembangunan. Jembatan gantung yang dulu menjadi urat nadi penghubung warga, kini sudah dua tahun lamanya hancur tak berbekas. Ungkap M. Nasir warga Aceh Timur kepada media ini, Kamis 21 Agustus 2025.
Besi-besi berkarat dan tali putus hanya menyisakan kenangan pahit, sementara masyarakat harus menanggung derita yang tak kunjung diperhatikan pemerintah. Muhammad Nasir, seorang warga Desa Naleung, tak kuasa menyembunyikan kegelisahannya setiap kali melihat anak-anak berangkat sekolah. Dengan seragam lusuh dan tas di punggung, mereka harus menantang arus sungai dengan rakit sederhana, mempertaruhkan nyawa demi menjemput ilmu.

Rakit darurat tanpa dinding dan pegangan.
“Kadang hati saya teriris,” ungkap Nasir lirih, “anak-anak kita belajar bukan dengan buku saja, tapi dengan keberanian menghadapi maut setiap hari.”
Alternatif lain memang ada, namun jarak yang harus ditempuh tak kalah menyiksa: 17 kilometer memutar melalui Lhok Sentang menuju Kuta Binjai. Bagi masyarakat kecil, itu bukan sekadar angka—itu berarti biaya lebih, tenaga lebih, dan waktu yang habis di jalan. Sementara, setiap penyeberangan dengan rakit pun menambah beban: Rp2.000 per orang dan Rp5.000 untuk kendaraan. Ironisnya, di malam hari harga itu bisa melonjak.
Dalam getirnya hidup, suara masyarakat hanya satu: berharap pemerintah meninjau, melihat, dan merasakan langsung penderitaan yang mereka alami. “Kami tidak minta istana, hanya sebuah jembatan untuk anak-anak kami bisa sekolah dengan selamat,” tutur Nasir.

Jembatan itu bukan sekadar kayu dan besi, melainkan harapan yang hilang. Sementara waktu terus berjalan, masyarakat Desa Naleung dan Desa Lhee masuk dalam wilayah kecamatan Julok Kabupaten Aceh Timur, hanya bisa menanti, entah sampai kapan, hingga ada tangan kebijakan yang benar-benar peduli. Pungkasnya. [ZH].











