Ilustrasi Trump Turun pesawat seperti kehilangan konsentrasi dan menuju meja sidang serta berada dalam lorong kekuasaan yang sempit dan sepi, foto: editan AC (4/3).
Jakarta — Jika Iran mampu ditundukkan dengan tekanan dua negara, tentu sudah selesailah situasi kenyamanan dunia. Sekarang Israel dengan didukung Amerika bebas berbuat sesuka hati mereka, tanpa ada batasan yang menghalanginya. Ungkap berbagai sumber.
Sabtu 28 Februari 2026 menjadi sejarah tanpa harus dipertanggungjawabkan, Israel menyerang sekolah dan kediaman Pemimpin Tertinggi Iran. Menghantam apa yang ada, dan menewaskan siapa saja yang menjadi target serta orang-orang terdampak menjadi binasa.
Ini titik akhir dari kesabaran dunia terhadap kebiadaban dua pemimpin negara Amerika dan Israel. Sebut berbagai pihak mengomentari dampak serangan Israel dan AS terhadap Iran.
Reaksi boleh saja mengalir dari berbagai negara di seluruh dunia setelah Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan militer mematikan terhadap Iran pada Sabtu pagi. Eskalasi yang belum pernah terjadi sebelumnya ini telah mengirimkan gelombang kejut ke seluruh komunitas internasional, meningkatkan kekhawatiran akan konflik regional yang lebih luas.
Para pemimpin dunia dan organisasi internasional boleh saja mengutuk keras dengan redaksional terhadap serangan gabungan tersebut, menyerukan pengekangan segera dan kembali ke diplomasi setelah Pemimpin Iran sekeluarga tewas, sungguh tidak adil.
Reaksi dunia terasa hanya sekedar redaksi, sementara Iran telah berduka yang dalam siapa yakin mereka bisa menerima dan bersabar. Sampai dimana kesabaran dunia, membiarkan Israel melakukan apa yang mereka suka dan didukung AS.
Sebagian besar Pengamat Internasional menyesalkan kecerobohan AS. Donald Trump ternyata tidak terlalu pintar, disangkanya begitu pemimpin tertinggi Iran tewas, Trump segera mendorong terbentuknya Pemimpin baru Iran sesuai keinginan AS.
Yang terjadi malah sebaliknya, masyarakat Iran semakin kompak, dan struktur kepemimpinan sudah kokoh sejak awal. 1 Tewas, maka muncul Pemimpin baru yang lebih militan. AS salah dalam menafsirkan politik kekuasaan Iran, Mullah sudah sangat kuat dan mapan di Iran. Iran menunjuk Ayatollah Alireza Arafi sebagai Pemimpin Tertinggi, menunjukkan pergantian pemimpin di Iran hal biasa. Tidak sempat AS, ikut campur urusan kepemimpinan Iran.
Mullah di Iran adalah gelar kehormatan untuk ulama, guru agama, atau pemimpin salat (imam) Muslim Syiah yang terpelajar dalam hukum syariah. Pasca-Revolusi 1979, mereka menjadi aktor utama dalam politik, hukum, dan struktur teokrasi Iran, bertindak sebagai penafsir hukum Islam dan penopang kekuasaan negara.
Iran Dijuluki Negeri Para Mullah?
Sebagaimana dilansir Jurnas.com – Salah satu julukan yang cukup melekat terhadap Iran atau Persia ialah Negeri para Mullah. Terdapat beberapa alasan mengapa sebutan itu disematkan. Di antaranya ialah karena mencerminkan peran besar para ulama dalam membentuk identitas politik, sosial, dan budaya Iran sejak revolusi 1979.
Sebagaimana dilansir CNBC Indonesia, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan siap melancarkan pembalasan paling keras menyusul kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei. Sikap ini menegaskan tekad Teheran untuk menghukum pihak-pihak yang mereka sebut sebagai pembunuh sang pemimpin.
Dalam pernyataan yang dimuat kantor berita Fars, Korps Garda Revolusi Islam Iran menyampaikan duka cita mendalam atas wafatnya Khamenei.
“Kita telah kehilangan seorang pemimpin besar dan kita berduka atas kepergiannya,” demikian pernyataan tersebut, dikutip Minggu (1/3/2026).
IRGC menilai kematian Khamenei sebagai “kemartiran di tangan teroris paling kejam dan algojo kemanusiaan,” yang disebut justru menegaskan legitimasi serta pengabdian sang pemimpin.
“Tangan pembalasan bangsa Iran untuk hukuman yang berat, tegas, dan patut disesalkan bagi para pembunuh Imam Umat tidak akan melepaskan mereka,” kata IRGC.
Mereka juga menyatakan akan berdiri “tegas dalam menghadapi konspirasi domestik dan asing,” serta mengklaim “operasi ofensif paling ganas dalam sejarah angkatan bersenjata Republik Islam Iran akan segera dimulai,” sebagaimana disampaikan melalui kanal Telegram resmi.
Jika ini terus dilanjutkan, bukan tidak mungkin denyut jantung Trump juga ada batasnya. Baru reda jika salah satu dari target mereka binasa (Trump atau Netanyahu), atau mendapat kutukan. Jika tidak, tidak ada yang mampu menganalisa kapan perang ini akan berakhir.
Yang menjadi pertanyaan dimana sekarang Trump dan Netanyahu, mengapa jarang muncul dihadapan publik?. Paling tidak bisa mengirim video untuk menegaskan, mereka masih ada dan masih sehat dengan jantung masih normal berdenyut. Sempat muncul Trump dibeberapa layar TV (4/3), dengan wajah kuyu kusam serasa sedang dihakimi dunia.
Serangan AS dan Israel ke Iran yang dibalas oleh Teheran telah mengguncang pasar minyak dunia. Konflik tersebut mengganggu pasokan energi global, termasuk penutupan efektif Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar 20% perdagangan minyak dunia.
Dampaknya langsung terasa pada harga minyak mentah, dengan Brent sempat melonjak ke level tertinggi sejak Juli 2024. Para ekonom memperingatkan bahwa kenaikan harga minyak akan segera diterjemahkan menjadi lonjakan harga bensin di stasiun pengisian bahan bakar (SPBU) AS, isu yang sangat sensitif secara politik.
Analis utama Oxford Economics, John Canavan, mengatakan harga bensin kemungkinan akan naik hanya dalam hitungan hari. “Harga di SPBU kemungkinan akan naik dalam beberapa hari,” ujarnya kepada AFP, dikutip melalui CNBC Rabu (4/3/2026).
Masyarakat dunia menunggu hilangnya ego Trump agar peperangan ini disudahi, karena resikonya bisa menjurus untuk perang dunia ketiga. [].











