Ilustrasi AI.
Internasional — Akibat serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran, telah menyebabkan kegaduhan dunia. Dampaknya dirasakan hingga Indonesia, meski jaraknya antara Iran ke Indonesia mencapai 7000-7400 km. Semua masyarakat dunia mengecam kecerobohan AS membantu Israel, yang membuat perang tidak berimbang dan sulit reda,apalagi setelah menewaskan Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei (86) pada penyerangan (28/2).
Dari sini titik balik yang mengerikan setelah penggantinya, justru sebagai putra ke dua dari Alm. Ayatollah Ali Khamenei yaitu Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei. Donald Trump pernah sesumbar seakan tidak menerima pengganti ini, karena pemilihan tidak melibatkan dirinya.
Sikap ini mendapat kecaman dari seluruh lapisan: “belum menjadi penjajah resmi untuk Iran sudah mengatur rumah tangga orang.” Salah satu sindiran buat Trump.
Mojtaba tidak peduli dengan ancaman Trump, sejak terpilih 8 Maret 2026 dia langsung menaikkan intensitas serangan ke Amerika Serikat dan Israel. AS & Israel terhenyak dan ketakutan, apalagi seluruh pangkalan militer AS di seluruh Timur Tengah dibom bardil Rudal Iran.
Dunia terguncang oleh sigap Mojtaba, bursa efek berpengaruh sangat negatif. Ini yang membuat Trump jatuh mental, karena bagi Trump “bursa terganggu jiwanya tidak tenang.” Ungkap sebagian besar Pengamat.
Buktinya, Presiden AS Donald Trump langsung memberikan isyarat bahwa operasi militer tersebut mungkin akan segera berakhir, menunjukkan sinyal meredanya konflik dalam jangka pendek.
Iran sangat sportif, Iran bukan Agresor. Iran tidak agresif, sikap Iran adalah Defensif (diserang baru menyerang, AS mengalah Iran berhenti menyerang). Selasa (10/3), itensitas penyerangan kedua belah pihak mereda, pasar terlihat normal, harga minyak turun kembali menuju stabil.
Inilah harapan berbagai pihak, dengan menyisakan pertanyaan kapan Netanyahu terbutuh sebagai balasan buat wafatnya Ayatollah Ali Khamenei. Pertanyaan ini muncul, setiap ada diskusi. [].











