Ilustrasi Bahan Pokok Melambung.
Acehconnect.com | Banda Aceh. —- Kondisi daya beli masyarakat yang tengah melemah hingga aktivitas ekonomi di dalam negeri yang loyo berpotensi akan terus terjadi, selama nilai tukar rupiah terus melemah di atas Rp 16.000/US$ dan tren suku bunga acuan masih tinggi.
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Abdul Manap Pulungan mengatakan, efek samping dari kedua kondisi itu telah menyebabkan sektor tenaga kerja tengah mengalami masalah, terutama akibat maraknya pemutusan hubungan kerja (PHK).
PHK dan tak membaiknya gaji atau pendapatan kelas pekerja itu sendiri menurutnya dipicu oleh pertumbuhan barang modal dan bahan bahan baku yang cenderung menurun, sehingga ekspansi perusahaan kini tengah terhambat, yang artinya kapasitas produksi menurun.
“Karena faktor depresiasi rupiah yang mahal. Jadi korporasi itu akan menahan untuk ekspansi. Kalau itu terjadi, maka akan berpengaruh terhadap sektor tenaga kerja,” kata Abdul Manap dikutip Kamis 11 Juli 2024 yang dilansir CNBC Indonesia.
Kondisi ini menarik perhatian berbagai kalangan, sehingga Acehconnect.com Banda Aceh mencari artikel yang sama untuk mencari tahu apa yang dilakukan Habibie semasa hidupnya dalam kondisi ekonomi yang sama parahnya.
Ternyata Habibie yang bukan ekonom, tapi mampu mengatasi masalah ekonomi yang sedang sulit. Menurunkan nilai tukar dollar AS dari 16.800 menjadi 6.550, hanya dengan Restrukturisasi perbankan, Kebijakan moneter ketat dan Pengendalian harga bahan pokok.
Seperti yang dilansir oleh CNBC Indonesia (9/7), Dolar Amerika Serikat terhadap Rupiah masih berada di level Rp16.280 pada hari itu.
Dua dekade silam, tepatnya pada 1998, posisi Dolar AS pernah berada di level serupa, tepatnya Rp16.800. Malah kondisinya lebih parah sebab kenaikan dolar terjadi dalam waktu relatif singkat dan cepat. Plus, merembet juga ke krisis politik pada saat itu.
Presiden Soeharto tumbang setelah berkuasa 32 tahun, pergantian kekuasaan secara mendadak juga tak serta merta membuat pasar optimis. Sebab, presiden penggantinya, B.J Habibie, dianggap tak bisa mengatasi masalah ekonomi.
Dia bukan ekonom, hanya teknokrat pembuat pesawat yang dianggap kritikus Orde Baru sebagai kebijakan buang-buang uang. Apalagi, saat itu dia juga masih dianggap bagian dari rezim Orde Baru. Bahkan, Presiden Singapura Lee Kuan Yew juga menganggap naiknya Habibie jadi orang nomor satu bisa membuat rupiah makin tak berdaya.
Dengan selalu senyum Habibie, berhasil menaklukan dolar lewat 3 cara ini di bawah ini :
1. Restrukturisasi perbankan
Sebagai catatan, pada masa Orde Baru pendirian bank dipermudah oleh pemerintah berkat kebijakan Paket Oktober 1988. Sayang, kemudahan pendirian bank ini tak dibarengi oleh kemampuan perbankan yang baik. Alhasil, saat terjadi krisis, banyak bank-bank bertumbangan. Nasabah lantas melakukan penarikan dana besar-besaran.
Permasalahan ini jadi fokus utama Habibie, dengan melakukan restrukturisasi perbankan seraya berharap Bank Indonesia makin kuat. Salah satu caranya mencabut aturan tersebut dan mempraktikan langsung pada bank pemerintah. Empat bank milik pemerintah digabung menjadi satu bank bernama Bank Mandiri, lebur dari Bapindo, Bank Exim dan lainnya.
Selain itu, dia juga memisahkan BI dari pemerintah lewat UU No.23 tahun 1999. Dalam otobiografinya, B.J. Habibie: Detik-detik yang Menentukan (2006), Habibie bilang kebijakan itu jadi langkah terbaik menguatkan rupiah. BI harus independen, objektif, dan bebas dari intervensi politik.
2. Kebijakan moneter ketat
Kebijakan moneter Habibie mengatasi krisis melalui penerbitan Sertifikat Bank Indonesia (SBI). SBI diterbitkan dengan bunga tinggi dengan tujuan agar bank-bank kembali dipercaya masyarakat. Jika ini terjadi, maka masyarakat akan kembali menabung, sehingga menurunkan peredaran uang di masyarakat.
Pria berdarah Sulawesi itu mengklaim kalau cara ini sukses. Berkat SBI, suku bunga dari 60% turun menjadi belasan persen. Kepercayaan terhadap bank pun kembali meningkat.
3. Pengendalian harga bahan pokok, Habibie menganggap kebutuhan bahan pokok jadi hal vital. Alhasil, dia mempertahankan harga listrik dan BBM subsidi agar tidak naik, sehingga harga bahan pokok tetap terjangkau di tengah krisis.
Pada sisi lain, kebijakan ini juga menuai kontroversi sebab Habibie mengeluarkan pernyataan nyelenah. Dalam salah satu pidatonya, dia pernah meminta rakyat berpuasa di kala krisis supaya lebih hemat.
“Ketika terjadi masa krisis saat B.J. Habibie diangkat menjadi presiden, ia menganjurkan rakyat melakukan puasa Senin-Kamis,” kata A. Makmur Makka saat menulis buku biografi Habibie, Inspirasi Habibie (2020).
Pada akhirnya, ketiga cara tersebut sukses membuat kepercayaan pasar terhadap ekonomi Indonesia meningkat. Aliran dana investor kembali masuk. Dan yang terpenting dolar AS kembali menguat dan terkendali ke level Rp 6.550.
Menjaga kestabilan harga bahan pokok ternyata bisa berpengaruh luas, tapi mengapa sekarang harga bahan pokok seperti terabaikan untuk dikendalikan. Nilai tukar rupiah seperti pasrah, hanya menggantungkan kondisi ekonomi di negara lain.
Seperti yang digambarkan FX Strategist, Global Financial Markets DBS Bank, Terence Wu mengatakan, dolar AS akan melemah di semester kedua 2024. Dolar AS (USD) mungkin akan bergerak datar (sideways) terlebih dahulu di kuartal ketiga, hingga akhirnya cenderung melemah.
Mungkin inilah kondisi sekarang, Indonesia hanya mampu menunggu kondisi ekonomi dunia tanpa ada solusi lain. Bahkan kabarnya pemerintah sedang mengutak-atik kembali soal subsidi BBM, celaka jika BBM naik maka Bahan Pokok tentu akan naik lagi. [*].











