Dalang Kerusuhan Inggris Mulai Terungkap

Sengsaranya warga Muslim bukan saja terjadi saat mereka ada di negara sendiri seperti Palestina dan Irak, namun saat mereka mencari perlindungan ke negara lain juga mengalami nasib yang serupa seperti yang dialami Othman warga asal Irak dikisahkan di ujung artikel ini.

Acehconnect.com | Banda Aceh. — Sebuah peristiwa miris terus dirasakan warga muslim di beberapa negara yang anti Muslim, macam cara mereka membuat skenario dari skenario besar hingga masalah kecil. Muslim di Inggris sempat mengalami hal itu, sungguh tragis nasib mereka.

Sengsaranya warga Muslim bukan saja terjadi saat mereka ada di negara sendiri seperti Palestina dan Irak, namun saat mereka mencari perlindungan ke negara lain juga mengalami nasib yang serupa seperti yang dialami Othman warga asal Irak dikisahkan di ujung artikel ini.

Dilansir dari CNBC Indonesia (24/8) mengungkapkan, kerusuhan itu bermula dari fitnah yang disebarkan seseorang warga yang menyasar warga Muslim mulai terungkap.

Badan Investigasi Federal Pakistan (FIA) telah mendakwa seorang pria dengan tindak pidana kejahatan dunia maya karena menyebarkan informasi palsu yang memicu kerusuhan di Inggris.

Farhan Asif, yang mengelola sebuah penerbitan web, ditangkap di kota Lahore di Pakistan timur, menurut pernyataan dari FIA, dikutip dari Reuters, Sabtu (24/8/2024).

Kerusuhan itu bermula setelah informasi palsu beredar luas di media sosial yang menyalahkan seorang migran Islamis atas pembunuhan tiga gadis muda dalam sebuah serangan pisau di kota Southport, Inggris utara, pada akhir Juli lalu.

Dikatakan Asif mengunggah sebuah artikel di akun media sosial X miliknya yang mengatakan bahwa penyerang itu adalah seorang imigran Muslim, dan juga membagikan foto-foto pembunuhan.

Setelah memperoleh konten palsu dari akun X lainnya, ia diketahui terlibat dalam penyebaran informasi menggunakan akun Twitter (X) miliknya sendiri, Channel 3 NOwnews.

Konten itu disebarluaskan dengan maksud untuk mengagungkan insiden penangkapan seorang pencari suaka Muslim oleh polisi dalam insiden penusukan di Southport, Inggris, dan menciptakan rasa takut, panik, dan tidak aman di tengah masyarakat.

FIA mengatakan bahwa telah ditetapkan bahwa akun yang menyebarkan berita palsu tersebut adalah milik Asif. Ia juga mengakui telah menyebarkan informasi palsu tersebut ke sebuah publikasi asing.

Asif belum menunjuk pengacara dan ia beserta keluarganya tidak dapat segera dihubungi untuk dimintai komentar, begitu pula akun X ketika Reuters mencoba mengirim pesan kepadanya.

Pengadilan menahan terdakwa dalam tahanan FIA selama satu hari pada hari Rabu untuk penyelidikan lebih lanjut. Ungkap sumber CNBC, dirangkum Acehconnect.com 24 Agustus 2024.

Ditelusuri ke berbagai laman, belum ada penjelasan resmi dari pemerintah Inggris atas penyelesaian korban kerusuhan Inggris beberapa waktu lalu.

Kisah itu bermula.

Bisnis etnis minoritas di Inggris menjadi salah satu sasaran perusuh di puluhan kota Inggris baru-baru ini. Kerusuhan dimulai setelah serangan penusukan yang menewaskan tiga gadis muda di Southport, yang oleh para perusuh secara keliru dituduhkan kepada seorang migran Muslim.

Ketika disinformasi tentang tersangka menyebar dengan cepat di dunia maya, massa yang marah turun ke jalan untuk melecehkan para migran dan Muslim secara acak. Warga Inggris kulit hitam dan Asia juga menjadi sasaran.

Pada tanggal 3 Agustus, ketika banyak orang melakukan kekacauan di kota Liverpool, Inggris utara, yang dekat dengan Southport, Ardalan Othman menyaksikan secara langsung ketika toko serba ada miliknya dijarah dan dirusak.

Kamera keamanannya merekam kejadian tersebut.

Dalam satu adegan, sekelompok pria mencuri kotak-kotak rokok. Beberapa mengambil barang-barang mahal seperti vape. Sepasang suami istri berusaha keras untuk membobol kasir. Namun, beberapa terlihat memasukkan beberapa batang cokelat ke dalam ransel mereka.

“Saya bisa melihat semuanya saat kejadian itu,” kata Othman.

Dia segera menelepon polisi tetapi sudah terlambat. Toko itu hancur.

“Saya ada di rumah ketika mereka membobol. Mereka mencuri semua uang tunai, vape, dan rokok saya. Mereka memecahkan jendela. Semuanya hancur.”

Saat ia berusaha memperbaiki kerusakan, ia dihantui oleh pikiran-pikiran yang menakutkan.

“Jumlah mereka lebih dari 100. Jika saya ada di dalam, mereka bisa saja membunuh saya. Saya tidak bisa tidur nyenyak sejak saat itu.”

Othman tinggal tidak jauh dari tokonya, tetapi masih merasa gelisah. Ia mengatakan bahwa ia terus-menerus waspada.

“Saya sama sekali tidak merasa aman. Saya memeriksa semua pintu dan jendela sebelum tidur. Saya takut mereka akan kembali atau mengikuti saya, dan menyerang rumah saya.”

Berasal dari Irak, Othman mencari perlindungan di Inggris tujuh tahun lalu.

“Saya datang … untuk melarikan diri dari kekerasan, saya tidak pernah mengalami bahaya apa pun. Namun, malam itu adalah pertama kalinya saya merasakan hal yang sama seperti di Irak.” [].

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *