Kepala Desa Wunut, Iwan Sulistiya Setiyawan.
Aceh Connect | Banda Aceh. — Sebuah penggalan cerita dari desa Wunut, Kecamatan Tulung, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, bisa menjadi inspirasi desa lain seluruh Indonesia. Kemampuan Kades menggali potensi daerah, telah memakmurkan hampir seluruh warganya yang berjumlah 2.000 lebih penduduk.
Desanya kecil terlihat ramai dengan geliat ekonomi desa yang tumbuh dari waktu ke waktu, tidak lain hasil karya kepala desa membangun flying fox sehingga muncul usaha ikutan dari masyarakat meraih rezekinya. Dikutip Aceh Connect dari BBC Indonesia, Jum’at 28 Maret 2025.
Desa Wunut berjarak 19 kilometer di utara pusat kota Klaten dan berbatasan dengan Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah.
“Dulu kami itu desa miskin,” kata Kepala Desa Wunut, Iwan Sulistiya Setiyawan.
Pria yang menjabat sebagai kepala desa sejak 2007 ini mengatakan saat ia pertama kali menjabat desa ini hanya memiliki pendapatan asli desa (PADes) sekitar Rp30-50 juta.
Dengan pendapatan sebesar itu, Iwan mengaku tak bisa berbuat banyak untuk desanya. Bahkan kala itu desanya tak memiliki mesin printer untuk urusan administrasi.
“Kita mau rapat sebulan sekali saja sulit. Masak rapat tidak ada minum dan sebagainya dan ini berimbas pada lambannya pelayanan kepada masyarakat,” aku Iwan.
Baru pada 2015, pada periode kedua dia menjabat sebagai kepala desa, Iwan mulai bisa melakukan pengembangan dan pemberdayaan masyarakat setelah mendapat bantuan dana desa.
Dana desa senilai sekitar Rp200 juta itu kemudian dia gunakan untuk mengembangkan waterpark, wahana bermain dan wisata keluarga berupa kolam renang dari sumber mata air.
Waterpark ini dinamai Umbul Pelem karena airnya bersumber dari tempat yang tidak jauh dari pohon mangga (Pelem dalam bahasa Jawa).

Airnya jernih namun alirannya tidak besar. Di Umbul Pelem ada berbagai wahana air, seperti kolam renang; tempat bermain anak; dan flying fox.
Sejak itu, Desa Wunut memiliki usaha desa berupa Umbul Pelem Waterpark yang dikelola Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Sumber Kamulyan.
Menjadi desa mandiri
Usaha wisata Umbul Pelem yang dikelola Bumdes Sumber Kamulyan Desa Wunut, memberikan perubahan drastis.
Pada 2024, tempat wisata ini mampu memberikan PADes sebesar Rp3,1 milyar, berkali-kali lipat dari semula yang sebesar Rp30 juta.
“Sekarang kita kategori desa mandiri dan Bumdes kategori maju,” kata Iwan.
Disebut desa mandiri karena Desa Wunut memiliki pendapatan lebih besar dibanding dengan bantuan dari pemerintah.
“Jadi PADes kita lebih besar,” kata Iwan.
Menurut Iwan, pada 2018 PADes Wunut sebesar Rp30 juta; 2019 sebesar Rp210 juta; 2020 sebesar 576 juta; 2021 sebesar 253 juta; 2022 sebesar Rp915 juta; 2023 sebesar Rp2,5 miliar; dan 2024 sebesar Rp3,1 miliar.
Sementara dana desa yang telah digunakan untuk Umbul Pelem sejak 2016 hingga 2022 sebesar Rp2,4 miliar.
“Tanpa dana desa tidak mungkin kita bisa membangun Umbul Pelem seperti kondisi sekarang itu,” akunya.
Sebagai kepala desa yang sudah menjabat selama tiga periode berturut-turut, Iwan menyebut kunci sukses menjadikan desanya yang dulu miskin dan sekarang mandiri adalah fokus, mengikuti aturan, dan tidak korupsi.
“Juga harus ada keberanian,” katanya.
“Tidak ada korupsi,” katanya dengan mimik muka serius.
“Kalau kita fokus, mengikuti aturan, dan tidak korupsi, maka negara Indonesia bisa makmur,” katanya.
Pemerintah desa telah menyiapkan uang hampir Rp 1 miliar untuk dibagikan sebagai THR bagi 2.289 warga. [*].











