Purbaya bisa kurus kering jika tidak diback-up sepenuhnya oleh Presiden, beban di pundak Purbaya makin menumpuk atas harapan masyarakat Indonesia untuk mereset kembali negeri ini membersihkan lintah yang bergayut.
Salah seorang pemerhati sosial lokal menyebutnya, Purbaya tidak bisa kerja sendiri dia harus dipimpin langsung oleh Presiden Prabowo Subiyanto dalam sebuah lembaga khusus pemberantas mafia, selain itu Purbaya masih perlu dijamin tetap sebagai menteri keuangan. Apalagi ini merupakan janji presiden, yang tidak akan gentar menghadapi. mafia (koruptor).
Jika kerja hebat ini sukses, daerah menunggu lungsuran termasuk Aceh, yang butuh diberikan jalan tol yang berkeadilan. Bukan jalan tol yang belum diberi aspal hingga sekarang, bansos yang cuma memperkaya orang yang sama. Ungkapnya, yang meminta namanya tidak disebutkan.
Aceh Connect — Mahfud MD, mantan Menko Polhukam, mengungkapkan adanya dugaan penyelundupan emas seberat 3,5 ton yang terkait dengan transaksi mencurigakan senilai Rp 189 triliun di lingkungan Kementerian Keuangan, khususnya Direktorat Jenderal Bea Cukai dan Pajak.
Beberapa poin utama terkait pernyataan Mahfud MD, yang dikutip dari Artificial Inteligency 23 Nopember 2025.
Jumlah Emas: Mahfud menyebutkan secara spesifik volume emas yang diduga bermasalah adalah 3,5 ton.
Nilai Transaksi: Kasus ini berkaitan dengan dugaan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) senilai total Rp 189 triliun. Modus Operandi: Emas batangan yang diimpor oleh tiga entitas terafiliasi dengan Grup SB dari tahun 2017-2019, dibuat seolah-olah telah diubah menjadi perhiasan dan diekspor seluruhnya untuk menghindari PPh Pasal 22 impor.
Padahal, menurut temuan Satgas TPPU, emas batangan tersebut diduga beredar di perdagangan dalam negeri.
Status Kasus: Mahfud menyatakan bahwa kasus ini sudah naik ke tahap penyidikan di Bea Cukai, namun perkembangannya cenderung mengendap dan tidak tuntas.
Tantangan: Baru-baru ini, Mahfud secara terbuka menantang Menteri Keuangan yang baru, untuk menuntaskan kasus besar ini, menuding adanya intervensi dari pihak-pihak kuat yang bermain dalam sistem.
Kini, setelah tongkat estafet Menteri Keuangan berpindah ke Purbaya Yudhi Sadewa, Mahfud seolah berkata,
“Ini PR lama, jangan cuma disemir, tolong disikat sampai kinclong.”
Dalam sesi podcast (editorialnasional.com) akhir pekan lalu, Mahfud membeberkan kembali modus korupsi besar ini — sebuah kasus di lingkungan Bea Cukai Kemenkeu yang melibatkan selisih 3,5 ton emas impor dan dugaan pencucian uang hingga Rp189 triliun.
Jejak Kasus: Dari Sprindik hingga Skandal Bea Cukai
Sebagai Ketua Komite Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU), Mahfud sempat mendorong penyidikan intensif. Hingga akhirnya, penyidik Ditjen Bea Cukai menerbitkan Surat Perintah Penyidikan (Sprindik) kasus impor emas Rp189 triliun pada 19 Oktober 2023.
Tapi publik tahu, ini bukan sekadar “kesalahan administratif” atau “salah input HS Code”. Ini adalah grand larceny in broad daylight — pencurian besar-besaran dengan lampu sorot menyala dan mikrofon terbuka.
Namun karena dilakukan dengan dasi rapi dan surat resmi, kejahatan itu bertransformasi menjadi “transaksi.”
Sosok Siman Bahar dan Dinasti Mafia Emas Kalimantan
Nama “SB” yang disebut Mahfud juga bukan lagi rahasia: Siman Bahar alias Bong Kin Phin. Sosok yang, kalau dibuat film biografi, mungkin berjudul The Godfather of Kalimantan.
Menilik kembali Artificial Inteligency.
Purbaya (Menteri Keuangan saat ini, Purbaya Yudhi Sadewa) belum memberikan pernyataan resmi mengenai kasus dugaan penyelundupan emas 3,5 ton, namun ia telah ditantang secara terbuka oleh mantan Menko Polhukam Mahfud MD untuk mengusut tuntas kasus tersebut.
Berikut adalah konteks situasinya:
Tantangan Mahfud MD: Mahfud MD mengungkapkan adanya dugaan korupsi dan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) terkait impor emas senilai Rp 189 triliun, di mana terdapat selisih fisik emas sebesar 3,5 ton yang diduga tidak tercatat dengan benar oleh Bea Cukai.
Ia secara eksplisit menantang Purbaya sebagai Menteri Keuangan yang baru untuk berani membongkar kasus besar yang melibatkan “orang besar” tersebut.
Sikap Umum Purbaya: Meskipun belum ada pernyataan spesifik mengenai kasus 3,5 ton emas, Purbaya dikenal memiliki sikap tegas terhadap aparaturnya. Ia mengancam akan menindak tegas pegawai Kementerian Keuangan yang “nakal” dan tidak akan melindungi aparat pajak dan bea cukai yang terbukti bersalah atau korup.
Respons yang Diharapkan: Publik dan beberapa tokoh politik, seperti Mahfud MD, berharap Purbaya menunjukkan nyalinya dengan membuka kembali dan mengusut kasus dugaan mega korupsi emas tersebut, yang sudah lama mengendap.
Secara ringkas, sikap Purbaya terhadap masalah ini sedang dinantikan, dan ada tekanan publik yang kuat baginya untuk mengambil tindakan nyata terhadap dugaan penyelundupan emas 3,5 ton tersebut.
Presiden Prabowo Subiyanto ditunggu masyarakat Indonesia, jika mau memberi respon dukungan kepada Purbaya Yudhi Sadewa dengan caranya yang khas ingin berantas mafia dan koruptor. Karena dalam berbagai pertemuan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subiyanto, mengepal tangan dan bertekad tidak akan mundur selangkah pun menghadapi koruptor, rakyat menunggu. [*].











