Serangan Keji Israel ke Mesjid Aqsa Tarik Simpati Negara Muslim Untuk Iran

Penyerangan pasukan Israel terhadap Muslim Palestina yang hendak shalat Idul Fitri di sekitar Masjid Al-Aqsa, Jumat (20/3/2026). (Foto: tangkapan layar Instagram @alaasous.ps).

Jakarta — Serangan Zionis Israel saat masyarakat Muslim ingin melakukan shalat di seputar Mesjid Aqsa, dinilai serangan paling biadab sepanjang masa. Israel telah membuat kebencian dunia, dunia mengutuk keras bagaimana cara militer Israel mengusir warga Muslim di sana terekam kamera di beberapa stasiun TV Nasional.

Pemandangan yang paling biadab dan keji, warga beragama diusir sesuka hati hanya karena Israel masih mendapat dukungan AS. Israel lupa bahwa, belum semua negara Muslim Timur Tengah mendukung upaya yang dilakukan dan diperjuangkan oleh Iran. Namun akibat kekejian yang ditampilkan Israel, telah membuat hampir semua Negara Islam Timteng Pro-Iran.

Foto: Tangkapan layar, Stepi Anriani.

Hal senada diungkap oleh Stepi Anriani Pengamat Intelijen dan Keamanan Nasional Sabtu Tengah malam (21/3), serangan Israel di hari lebaran terhadap mesjid Aqsa, telah menarik perhatian negara muslim timteng Simpati pada apa yang sedang diperjuangkan Negara Islam Iran.

Itu bagaikan Magnit menarik pecahan besi untuk disatukan, Iran semakin kuat. Belum lagi permainan yang akan dilakukan oleh Rusia dan China, Israel gegabah suka-suka tidak pakai aturan dan ini telah membuat kebencian.

Perang AS-Israel lawan Iran dapat dikatakan sebuah perang yang paling rumit, dan sulit sekali menentukan pemenangnya. Kata Stepi.

NU Online melansir, Sejumlah umat Islam yang hendak melaksanakan shalat Idul Fitri di luar Masjid Al-Aqsa diserang pasukan Israel pada Jumat (20/3/2026). Hal tersebut sebagaimana tampak dalam video yang diunggah Instagram @muslim.

“Pasukan Israel menyerang umat Islam Palestina yang mendekati Masjid Al-Aqsa untuk shalat Id,” tulis keterangan dalam video tersebut.

Instagram @muslim membubuhi keterangan bahwa hal tersebut baru terjadi dalam 59 tahun terakhir sejak 1967.

“Tidak ada sholat Idul Adha di Masjid Al Aqsa untuk pertama kalinya dalam 59 tahun,” demikian bunyi keterangan tersebut.

Sebagaimana diketahui, bahwa Israel menutup akses ke area Masjid Al-Aqsa dan sekitarnya sejak awal Maret 2026 lalu setelah serangan Israel-Amerika Serikat terhadap Iran pecah.

Dilansir dari Middle East Eye, bahwa Israel akan tetap menutup Masjid Al-Aqsa hingga Idul Fitri dan seterusnya. Bukan saja area masjid, tetapi juga menyeluruh wilayah kota tua tersebut.

Sejumlah negara mengutuk penutupan akses masuk ke tempat suci itu. Namun, hal tersebut tak membuat Israel mengubah kebijakannya itu. Shalat tarawih dan Jumat pun tak ada sepanjang waktu sejak ditutupnya akses tersebut.

“Penutupan kota tua dalam cara demikian tidak pernah terjadi sebelumnya,” ujar Mustada Abu Sway, pengajar di Masjid Al-Aqsa dan Anggota Dewan Wakaf Islam di Jerusalem, sebagaimana dilansir Middle East Today.

“Terdapat inkonsistensi ketika kami bandingkan apa yang tengah terjadi di dalam kota tua dengan apa yang terjadi di luarnya, di mana orang-orang bergerak bebas, shalat di masjid-masjid, dan hidup di kota berlangsung sebagaimana biasanya,” lanjutnya.

Kantor Berita Palestina, WAFA, juga mengabarkan bahwa penutupan Masjid Al-Aqsa berlanjut hingga Idul Fitri. Ribuan Muslim Palestina tak bisa melaksanakan shalat id dan merayakan Idul Fitri di tempat suci itu.

“Meskipun ditutup, warga Yerusalem terus berbondong-bondong ke sekitar Al-Aqsa dan gerbangnya, melaksanakan salat di jalanan dan di tangga selama beberapa malam berturut-turut,” demikian keterangan WAFA.

Hal tersebut, lanjut WAFA, mencerminkan penolakan masyarakat terhadap pembatasan yang diberlakukan, khususnya karena pembatasan tersebut telah diperluas ke daerah-daerah terdekat, seperti halaman Sekolah Rashidiya. Pasalnya, pasukan Israel yang berjaga berjumlah lebih banyak dari biasanya.

Ini menjadi menarik, AS bersusah payah mencari dukungan NATO dan Negara Timur Tengah agar sama-sama kawal selat Hormuz. Sedang Zionis seperti tidak sepakat dengan AS, mereka tidak peduli simpati Negara lain. Yang penting dia membuktikan akan menghancurkan semua negara, yang mereka tidak sukai.

Mudah ditebak Israel ingin menang sendiri, caranya halus ingin imbangi apa yang selama ini telah melekat di pundak AS sebagai negara Super Power. Hanya saja AS belum menyadarinya, atau ini masing-masing punya ambisi. [].

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *