Perundingan AS-Iran Tahap 1 Gagal, Pakistan Harap Lanjut

Trump terlihat tertekan.

Jakarta — Ambiguitas merupakan sesuatu yang ditafsirkan berbeda-beda atas sebuah pernyataan, tapi ambiguitas AS dan Israel sebuah kepura-puraan. Sejak awal sudah dapat dipastikan bahwa, ajakan perundingan oleh AS itu hanya propaganda agar Israel punya kesempatan menyerang Lebanon tanpa  Iran.

Kepura-puraan ini pernah diangkat oleh media ini dengan judul Rencana Gencatan Senjata Digadang Lebanon Diserang, Damai Terhalang. Kini telah menjadi bukti, gagalnya perundingan dapat disebabkan oleh Israel yang tidak mengakui Lebanon sebagai syarat gencatan senjata. Lebanon diakui sebagai Ambiguitas yang ditafsir berbeda antara AS dan Israel, namun kemudian AS menyetujui sikap Israel.

Perbedaan sikap antara Amerika Serikat (AS) yang mendorong deeskalasi dengan Iran dan Israel yang terus melanjutkan serangan di Lebanon dinilai sebagai bagian dari strategi dalam konflik.

Analis Senior Indo-Pacific Strategic Intelligence, Dr. Fauzia G. Cempaka Timur, menyebut ketidaksinkronan tersebut bukan sekadar miskomunikasi, melainkan bentuk ambiguitas yang disengaja atau fog of war (kabut perang).

Menurutnya, indikasi inkonsistensi antara Washington dan Tel Aviv sudah terlihat sejak awal eskalasi, salah satunya saat Israel menyerang fasilitas gas Ras Laffan.

“Saat itu AS menyatakan tidak mengotorisasi serangan tersebut, yang menunjukkan adanya perbedaan sikap,” ujar Fauzia kepada Metrotvnews,com, Jumat, 10 April 2026.

Perbedaan ini semakin mencolok dalam proses negosiasi gencatan senjata. Iran mengajukan syarat penghentian serangan di seluruh front, termasuk Lebanon.

Namun, Amerika Serikat menolak poin tersebut. Gedung Putih dan Wakil Presiden JD Vance menilai penghentian operasi di Lebanon tidak dapat dimasukkan dalam kesepakatan.

Washington bahkan memperingatkan Teheran agar tidak mengganggu proses diplomasi yang sedang berlangsung demi isu Lebanon. Sebagai respons, Iran kembali memperketat kontrol atas Selat Hormuz sebagai alat tekanan geopolitik.

“Setelah sempat dibuka, Selat Hormuz kini kembali dikontrol ketat. Ini menunjukkan keseriusan Iran dalam menuntut penghentian serangan di Lebanon,” jelas Fauzia.

Ia menyimpulkan bahwa ambiguitas antara pendekatan diplomatik AS dan tekanan militer Israel merupakan strategi yang dimanfaatkan untuk memengaruhi persepsi global.

“Dalam konteks perang, ini disebut fog of war. Ambiguitas ini digunakan sebagai alat untuk membentuk opini internasional,” tegasnya.

Sementara itu pihak berwenang Iran menyatakan, diplomasi tetap berjalan akan tetapi Iran siap menghadapi situasi apapun.

Sumber lain menyebutkan, Presiden Amerika Serikat sangat gusar merasa mendapat tekanan dari luar dan dalam. Bahkan sangat mungkin mulai merasakan, AS dikomando Israel. Belum lagi pemilu paruh waktu, semakin dekat (Nopember 2026). [].

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *