Jika Negara Terlanjur Dikuasai Bandit, Nigeria pun Tak Mampu Keluar Dari Krisis

Peta negara bagian Borno di Nigeria (SinPo.id/VOA)

Acehconnect.com | Banda Aceh. —- Aksi bom bunuh diri yang tidak dapat diterima akal sehat terjadi di mana-mana, Nigeria telah membuat warganya putus asa sehingga muncul kelompok semacam itu memilih jalan akhir perlawanan. Wanita hamil, dan janin dikorbankan.

Serangkaian bom bunuh diri Nigeria Sabtu (29/6), telah menewaskan 18 orang yang meninggal terdiri dari anak-anak, pria, wanita dan wanita hamil. Sembilan belas orang yang mengalami luka berat dibawa ke Kota Maiduguri, dan 23 orang lain yang terluka sedang menunggu evakuasi. Kata Barkindo Saidu, kepala badan SEMA, dikutip dari AFP, Minggu (30/6).

Lebih lanjut, seorang anggota milisi yang membantu militer di Gwoza mengatakan dua rekannya dan seorang tentara juga tewas dalam serangan lain di sebuah pos keamanan.

Diperkirakan peristiwa ini ada kaitannya dengan militan Boko Haram merebut Gwoza pada 2014, ketika kelompok tersebut mengambil alih sebagian wilayah di Borno utara.

Kemudian, kota ini direbut kembali oleh militer Nigeria dengan bantuan pasukan Chad pada 2015, tetapi Boko Haram terus melancarkan serangan dari pegunungan di dekat kota tersebut.

Ilustrasi ledakan

Boko Haram diketahui telah melakukan sederet serangan, membunuh para pria, dan menculik para wanita yang pergi ke luar kota untuk mencari kayu bakar dan buah akasia.

Kekerasan tersebut telah menewaskan lebih dari 40 ribu orang dan membuat sekitar dua juta orang mengungsi di timur laut Nigeria.

Konflik ini bahkan telah menyebar ke negara tetangga Niger, Kamerun dan Chad, sehingga mendorong terbentuknya koalisi militer regional untuk memerangi para militan.

Belum ada yang mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut.

Nigeria dilanda ketidakamanan. Di wilayah timur laut, Boko Haram telah melancarkan pemberontakan dengan kekerasan sejak tahun 2009; di wilayah utara-tengah, bentrokan antara petani dan penggembala meningkat dalam beberapa tahun terakhir; dan tindakan bandit oleh orang-orang bersenjata di barat laut meneror warga.

Di seluruh negeri, penargetan terhadap kelompok rentan tersebar luas, termasuk penculikan untuk mendapatkan uang tebusan atau untuk menekan pemerintah agar memenuhi tuntutan para agresor. Para ahli juga mengatakan bahwa memburuknya kondisi ekonomi telah menyebabkan peningkatan penculikan untuk mendapatkan uang tebusan selama empat tahun terakhir.

Namun sebagai negara dengan perekonomian terbesar di Afrika dan negara dengan kekuatan militer terkuat di benua itu, banyak yang mempertanyakan mengapa Nigeria tidak mampu menghentikan krisis ketidakamanan yang semakin meningkat sejak awal. [].

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *