Beirut — Israel telah membunuh secara terang-terangan terhadap seorang jurnalis Perempuan Lebanon, Amal Khalil, Rabu siang (22/4/2026). Tulis Time Indonesia, Kamis 23 April 2026.
Puluhan jurnalis menghadiri pemakaman Khalil di kota kelahirannya di selatan, Baysariyeh, pada hari Kamis. Peti jenazahnya diselimuti bendera Lebanon dan ditutupi bunga, helm dan rompi persnya diletakkan di atasnya.
Dunia pers kehilangan sosok pionir yang mendedikasikan hidupnya untuk menyingkap realita di bawah bayang-bayang agresi militer. Amal Khalil dikenal sangat pemurah, sering sekali berbagi informasinya kepada para teman Jurnalis. Dulu dia duduk memegang foto Jurnalis Lebanon yang tewas karena militer Israel, kini dia tewas oleh kebiadaban Israel yang tiada henti ingin membunuh Jurnalis.
Yahudi pun tidak menerima sikap militer Israel, dan mereka menganggap bawa-bawa nama Yahudi untuk menyerang orang yang tidak bersalah. Netanyahu pastas untuk dipertanyakan dari keturunan apa dia, apa maksud bertindak dan terlibat dalam perang yang tidak berkesudahan. Kata seorang Demonstran, di Israel belum lama ini.
“Amal hadir di setiap rumah. Setiap rumah di Lebanon telah kehilangan dia,” ujar Ali Khalil, saudara laki-lakinya.
Ketajaman tulisannya mulai terasah sejak bergabung dengan surat kabar Al-Akhbar pada tahun 2006 silam.
Ia tidak pernah gentar meski sering menerima intimidasi dan ancaman pembunuhan karena membongkar kasus korupsi.
Tragedi ini memperpanjang daftar panjang jurnalis yang menjadi target serangan saat menjalankan tugas kemanusiaan. Peristiwa nahas tersebut terjadi saat Amal sedang menuju lokasi serangan sebelumnya di kawasan Al-Tayri.
Ramzi Kaiss, peneliti Lebanon untuk Human Rights Watch, mengatakan “pembunuhan jurnalis Amal Khalil oleh Israel harus diselidiki secara kredibel”.
Tim penyelamat dan Pemilik media atau dikenal sebagai majikan wartawan tersebut pada hari Rabu mengkonfirmasi kematian Amal Khalil, seorang jurnalis berusia 42 tahun, yang bekerja untuk harian Lebanon Al-Akhbar.
Badan pertahanan sipil mengatakan dia tewas dalam serangan terhadap sebuah rumah di desa Al-Tiri.
“Israel sengaja menargetkan jurnalis untuk menyembunyikan kebenaran tentang kejahatannya terhadap Lebanon,” kata Presiden Joseph Aoun dalam sebuah pernyataan yang mengecam “kejahatan perang”. [].











