Foto: AC | Zul.
Aceh Connect — Dari sambungan darurat jaringan Starlink, tepat pukul 01.00 WIB, 1 Desember 2025, awak media akhirnya berhasil tersambung dengan sejumlah narasumber di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah. Suara mereka terdengar terputus-putus, namun penuh kepanikan. Salah satunya, Mutia, warga di lokasi pengungsian Bener Meriah, menggambarkan situasi yang semakin memburuk dari menit ke menit.
Menurut Mutia, bahan pokok seperti beras, minyak goreng, dan telur sudah sangat menipis. “Kami sudah mulai kehabisan… anak-anak menangis lapar,” ucapnya lirih sebelum sambungan kembali melemah. Jaringan telepon yang tadinya masih bisa digunakan kini hampir tidak berfungsi sama sekali, membuat komunikasi antarlokasi semakin lumpuh.
Sementara itu, warga yang mencoba mencari BBM di SPBU Pondok Baru, Bener Meriah, telah mengantre hingga 8 jam, namun stok yang tersedia juga diperkirakan tidak akan bertahan lama.
Lebih parah lagi, akses darat menuju Bireuen dilaporkan putus di 13 titik, sebagian tertimbun longsor dan sebagian lagi tergerus arus banjir. Jalur KKK Bener Meriah menuju Lhokseumawe juga putus total, membuat wilayah pengungsian terisolasi tanpa jalur penyelamatan dari darat.
Dengan kondisi ini, satu-satunya kemungkinan mengirim bantuan ke Aceh Tengah dan Bener Meriah hanyalah melalui jalur udara. Mutia menegaskan bahwa kebutuhan paling mendesak saat ini adalah bahan pokok makanan dan suplai medis bagi warga rentan, terutama anak-anak dan lansia yang mulai menunjukkan tanda kelelahan dan kekurangan asupan.
“Tolong sampaikan… kami mohon pemerintah mencari cara secepat mungkin. Jangan tunggu besok,” katanya sebelum panggilan terputus oleh gangguan jaringan. [Zul].











