Foto, Ilustrasi ac (29/7), editan.
Acehconnect.com | Banda Aceh. — Dasar pendirian PKB menjadi alasan terjadinya konflik antara Cak Imin (panggilan akrab Muhaimin Iskandar), dengan Gus Yahya. Keduanya berbeda pendapat dan pandangan menyangkut hal ini, ditambah keinginan besar kelompok Gus Yahya mengembalikan PKB ke pangkuan NU.
Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar dan Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf alias Gus Yahya terlibat perang terbuka. Semua berawal dari rencana mengembalikan PKB ke pangkuan PBNU.
Ketum PBNU Gus Yahya mengakui banyak konflik yang terjadi antara PKB dan PBNU dalam beberapa waktu terakhir. Ia pun telah menunjuk dua petinggi organisasi untuk mendalami hubungan antara PKB dengan PBNU menyusul ketegangan antara dua organisasi ini.
Mereka yang ditunjuk adalah Wakil Rais Aam Kiai Anwar Iskandar dan Wakil Ketua Umum PBNU Amin Said Husni. Dilansir dari CNN Indonesia, Senin 29 Juli 2024.
“Apakah nanti akan dikembalikan jadi organnya NU misalnya, ya kita belum tahu. Itu soal aspirasi dan komunikasi lain sebagainya ini kan awal sekali. Kita lihat nanti,” kata Yahya kemarin.
Sementara Ketua Umum PKB Cak Imin menegaskan pendirian partainya tak hanya untuk organisasi NU. Ia menegaskan bahwa PKB lahir untuk kejayaan Indonesia.
“Jadi bukan untuk NU pribadi, tapi seluruh bangsa Indonesia, tapi untuk berkibarnya merah putih bagi kejayaan Indonesia,” kata Cak Imin.
Konflik terbuka antara PKB yang dipimpin Cak Imin dengan PBNU yang kini dikomandoi Gus Yahya dinilai akan terus berlanjut. Jika dirunut, panas dingin hubungan keduanya berawal dari Muktamar NU pada Desember 2021 lalu.
Analis Politik Agung Baskoro berpendapat akar masalah dari PBNU-PKB karena ada perbedaan sikap antara Cak Imin yang kala itu mendukung Said Aqil Siraj pada pemilihan Ketua Umum PBNU pada 2021 lalu.
Namun pada Muktamar ke-34 NU itu, Said Aqil Siraj kalah. Gus Yahya yang akhirnya berhasil duduk sebagai Ketua Umum PBNU.
Agung mengatakan masalah terus berlanjut ketika Gus Yahya yang mendukung Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka pada Pilpres 2024. Padahal Cak Imin yang juga kader NU maju menjadi cawapres pendamping Anies Baswedan.
Dari amatan media ini diberbagai pertemuan terkait pelaksanaan Haji 2024, Cak Imin bersikeras mendorong hadirnya Pansus Angket Haji. Menteri Agama Gus Yaqut tersudut oleh banyaknya persoalan jamaah haji tahun ini, hal ini memungkinkan munculnya kelompok tandingan menyerang Cak Imin.
Akankah PKB terpecah menjadi 2 kubu, atau munculnya PKB tandingan seperti yang tren terjadi dalam bentuk Partai Perjuangan atau julukan lain yang dipakai. Masyarakat pada umumnya apatis dengan partai politik, seperti yang terjadi di semua daerah termasuk Aceh. “Partai politik nasional yang ada di Aceh, menghadirkan kadernya sebagai calon pemimpin saja tidak mampu.” Kata warga Aceh kepada media ini, beberapa waktu lalu.
Hal ini terbukti sampai saat ini jelang Agustus, bakal calon Gubernur Aceh baru ada dari Partai Lokal (Partai Aceh). Sedang koalisi partai nasional dimungkinkan tidak terjadi di Aceh, paling hanya memanfaatkan Pj Gubernur Aceh Bustami Hamzah yang mendapat simpati Rakyat Aceh di banyak kabupaten. [*].











