Foto : Gambar, editan ac (7/8).
Acehconnect.com | Banda Aceh. — Setelah sempat dihentikan, Inggris kembali mengambil pekerja musiman asal Indonesia pada 2024. Rombongan pertama pekerja migran Indonesia tiba di Bandara Heathrow, Inggris pada Senin (13/05) malam
Gelombang selanjutnya, 500 pekerja migran Indonesia (PMI) ke Inggris untuk ditempatkan di sektor perkebunan melalui skema pekerja musiman (seasonal worker scheme) pada musim petik 2024 digelar di Rumah Sate Haji Subeki, Bekasi, Jawa Barat, pada Rabu (08/05).
Dua bulan setelah gelombang pekerja Indonesia tiba, kerusuhan terjadi di Inggris dan sasarannya Imigran Muslim.
Rentetan insiden berawal dari penikaman yang menyebabkan tiga anak perempuan meninggal dunia di Southport, di Inggris barat laut, pada 29 Juli. Penikaman juga menyebabkan delapan anak lain luka-luka, lima di antaranya cukup kritis. Yang juga menjadi korban luka-luka adalah dua orang dewasa.
Southport berduka. Lautan bunga diletakkan di satu sudut kota untuk mendoakan dan mengenang para korban, terutama untuk tiga anak perempuan yang meninggal dunia.
Namun, ketika orang-orang berkumpul untuk berbela sungkawa, di dunia maya santer beredar rumor bahwa pelakunya adalah “imigran Muslim”, bahwa pelakunya adalah “pencari suaka yang masuk ke Inggris dengan perahu”
Padahal, belakangan diketahui pelakunya adalah remaja bernama Axel Rudakubana, yang lahir di Cardiff dan tinggal di Desa Banks, beberapa kilometer di utara Southport.
Hoaks bahwa sang pelaku adalah “pencari suaka Muslim yang masuk Inggris dengan perahu” menyebar cepat, teramplifikasi oleh tokoh-tokoh ekstrem kanan di media sosial.
Mereka yang termakan hoaks, berkumpul dan meneriakkan jargon anti-Islam dan anti pendatang.
Ketika emosi tak lagi bisa ditahan, bentrok pecah. Lebih 50 polisi luka-luka, masjid di Southport diserang.
Kerusuhan menyebar. Di Rotherham, pada Minggu (04/08) hotel yang dipakai untuk menampung pencari suaka menjadi sasaran amuk simpatisan ekstrem kanan. Di Middlesbrough, pada hari yang sama, para perusuh memecah kaca-kaca rumah dan mobil.
Mantan penasihat pemerintah soal kerukunan masyarakat, Sara Khan, memberikan konteks dan perspektif. Dalam wawancara eksklusif dengan harian The Guardian, Khan yang pernah menjabat sebagai komisioner kontra-ekstremisme, mengatakan kerusuhan tak terjadi tiba-tiba.
Khan mengatakan “ini semua disebabkan oleh narasi hasutan dan kebencian terhadap imigran yang disuarakan para politisi Partai Konservatif”.
Konservatif adalah partai yang berkuasa di Inggris selama 14 tahun, sebelum kalah pemilu pada awal Juli lalu.
Narasi kebencian ini menyuburkan ekstremisme di akar rumput, kata Khan. Narasi inilah yang diusung dan disebarkan secara bebas oleh orang-orang yang terhasut pandangan xenopobis (red, tidak suka orang asing) pandangan yang anti orang-orang dari negara lain.
Mereka butuh pekerja luar untuk bekerja di kebun mereka secara musiman, tapi mereka fobia pada pendatang dari negara lain. Inilah derita WNI yang terpaksa bekerja di luar negeri, datang mencari nafkah tapi harus menjadi korban hoax atas kelompok fobia.
Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia Kementerian Luar Negeri, Judha Nugraha, melaporkan belum ada WNI yang menjadi korban jiwa dalam aksi demonstrasi yang berlangsung di Inggris.
“Berdasarkan komunikasi dengan komunitas Indonesia, hingga saat ini tidak ada WNI yang menjadi korban,” kata Judha dalam keterangan, Senin (5/8/2024).
Mengacu data Kementerian Luar Negeri, WNI di Inggris tersebar di sejumlah kota, antara lain Sunderland 18 orang, Manchester 532 orang, Leeds 467 orang, Nottingham 290 orang, Bristol 228 orang, Liverpool 134 orang, dan London 3279 orang. Dikutip Acehconnect.com , dari berbagai sumber, Rabu, 7 Agustus 2024.
Sementara Detik.news melaporkan, Aksi vandalisme berupa tumpahan cat abu-abu ditemukan di sejumlah batu nisan di pemakaman muslim distrik Burnley, wilayah Lancashire, Inggris.
Media lokal Lancashire Telegraph, aksi vandalisme diperkirakan terjadi pada Senin (5/8/2024) setelah kepolisian menerima laporan kerusakan pemakaman muslim di Burnley.
“Kami telah meluncurkan penyelidikan setelah laporan kerusakan kriminal di Burnley hari ini (Senin, 5 Agustus). Kami dipanggil sekitar pukul 04.15 sore ke Pemakaman Burnley di Rossendale Road setelah ada laporan bahwa cat telah dituangkan di atas batu nisan di area pemakaman muslim,” kata juru bicara kepolisian Lancashire dalam keterangannya, dikutip dari laman pemerintahan Burnley, Rabu (7/8/2024). [*].











