Opini  

Strategi Pemerintah Lhokseumawe Diuji: Harapan Tenaga Kerja Lokal di Ambang Realita

Mustaqim

Aceh Connect | Lhokseumawe — Di tengah sorotan publik atas angka pengangguran terbuka yang masih bertengger di level 8,47% pada 2024, suara pengamat lokal, Mustaqim, hadir memberi tanggapan tajam. Menurutnya, penurunan dari angka 11,99% lima tahun lalu memang patut diapresiasi, tetapi fakta bahwa Lhokseumawe masih menjadi kota dengan pengangguran tertinggi di Aceh adalah alarm serius bagi pemerintah.

Pemerintah Terlalu Reaktif

Mustaqim menilai langkah pemerinta seperti pengangkatan ribuan PPPK, program pelatihan keterampilan, hingga wacana penguatan UMKM, belum sepenuhnya menjawab akar persoalan.

“Pemerintah cenderung reaktif. Ada program, tapi tidak menyentuh penyebab utama: mismatch antara lulusan pendidikan dengan kebutuhan industri, dan minimnya investasi padat karya,” ujarnya.

Menurutnya, selama orientasi pembangunan masih sekadar mengejar proyek jangka pendek, pengangguran hanya akan bergeser angka, bukan hilang dari wajah kota.

Dari Retorika ke Aksi Nyata
Meski kritis, Mustaqim masih menyimpan harapan besar pada pemerintahan saat ini. Ia menekankan tiga hal yang harus segera dilakukan:

1. Kebijakan Local Content yang Tegas
“Proyek strategis seperti ORF Blok South Andaman harus jadi pintu masuk tenaga kerja lokal. Jangan sampai proyek miliaran rupiah hanya jadi tontonan warga, sementara pekerjanya didominasi orang luar.

”2. Reformasi Pendidikan dan Vokasi
Ia menekankan perlunya sinkronisasi antara sekolah, kampus, dan industri. “Jangan biarkan ribuan lulusan SMA dan universitas menumpuk jadi penganggur terdidik. Pendidikan harus adaptif, bukan hanya formalitas.

” 3. Diversifikasi Ekonomi
Mustaqim mendorong agar pemerintah berani keluar dari ketergantungan migas. “Lhokseumawe punya potensi besar di sektor kreatif, perdagangan, hingga agribisnis. Itu harus digarap serius.”

Bagi Mustaqim, angka pengangguran bukan sekadar statistik, melainkan cerita getir ribuan keluarga. Harapannya jelas: pemerintah tidak boleh lagi terjebak pada janji manis, melainkan bergerak dengan strategi yang terukur, berpihak pada rakyat, dan berjangka panjang.

“Jika tidak, Lhokseumawe akan terus dikenal bukan sebagai kota industri, melainkan kota dengan pengangguran tertinggi di Aceh,” pungkasnya. [*].

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *